PLTA Batang Toru Didesain Tahan Gempa

PLTA Batang Toru Didesain Tahan Gempa
Peta PLTA Batang Toru ( Foto: istimewa / istimewa )
Nurjoni / DAS Senin, 27 Mei 2019 | 12:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PLTA Batang Toru tidak menggunakan reservoir, tidak menggunakan giant dam (waduk), volumenya kecil sehingga tidak memiliki risiko gempa yang dipicu oleh waduk yang diistilahkan reservoir-induced seismicity (RIS).

PLTA Batang Toru sudah memperhitungkan risiko gempa karena didesain dengan menggunakan standar ICOLD (International Commissions on Large Dams) oleh tenaga ahli profesional dari Tiongkok, Prancis, Taiwan. dan Indonesia. Pembangunannya hanya dapat dimulai setelah ada izin dari IDSC (Indonesian Dam Safety Commission) yang langsung di bawah kendali Menteri Pekerjaan Umum

Didiek Djarwadi, anggota Pusat Studi Gempa Nasional dan Ketua Komisi Teknis Seismic Aspects of Dam Design Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNIBB), menjelaskan, PLTA ini memang terletak hanya sekitar 5 kilometer dari sesar gempa tetapi bangunan ini telah dihitung dan dikaji agar tahan dengan gempa. Pihaknya sudah mempunyai data episenter semua gempa sejak tahun 1900 hingga 2016 yang terjadi di Sumatera Utara. Sesar terdekat adalah sesar gempa sekunder, bukan sesar primer dan bukan sesar aktif.

Menurut dia, survei kegempaan untuk PLTA Batang Toru telah selesai dilakukan pada bulan Maret 2017, yang di dalamnya termasuk seismic hazard assessment dan seismic hazard analysis. Di samping itu, penetapan parameter gempa untuk PLTA Batang Toru dengan mengacu pada ketetapan yang ada pada ICOLD Bulletin Nomor 148 yaitu Selecting Parameters for Large Dams, yaitu “total hazard”, sehingga semua sumber gempa seperti subduction zone, shallow crustal & background, benioff zone sudah diperhitungkan dalam rekomendasi.

Dari hasil studi, didapat angka pergerakan sesar atau slip rate sebesar 5 mm per tahun antara Sarulla (Kabupaten Tapanuli Utara) dan Sipirok (Kabupaten Tapanuli Selatan), Sumatera Utara. Sedangkan dam yang dibangun untuk keperluan PLTA ini berjarak sekitar 4,5 km dari sesar ini dan direkomendasikan aman dibangun dengan spesifikasi tahan gempa.

“Inilah hasil studi yang saya lakukan untuk PLTA Batang Toru sesuai metode geofisika. Jadi PLTA Batang Toru ini aman dibangun dengan memperhatikan koridor dan standard yang berlaku,” ungkap Didiek.

Dia menambahkan, studi yang dilakukan juga telah menghitung berbagai kemungkinan dan mengumpulkan data sekian tahun ke belakang, dan data gempa yang tercatat di Sumatera Utara.

“Hasil inilah yang kami serahkan dan memberikan parameter kepada PLTA untuk membangun dam yang memenuhi spesifikasi dan ketentuan dari ICOLD (International Commission On Large Dams), termasuk di dalamnya antisipasi terhadap gempa. Sedangkan dari hasil hitung kami, gempa di lokasi dam sering terjadi tetapi besarnya tidak lebih dari 2 SR dan tidak terasa oleh manusia,” jelasnya.

Didiek melanjutkan, untuk menghitung konstelasi gempa ada dua window, yakni window jarak dan window magnitudo. Dua window itu akan memberikan kontribusi yang paling optimum getarannya terhadap struktur dam. Jarak yang terdekat 4,5 km dan memberikan magnitudo sebesar 6,7.

“Karena itu, kami merekomendasikan safety factor sebesar tiga kali untuk struktur dam. Faktor aman beton terhadap retak mampu menahan tegangan tarik tiga kali tegangan tarik yang ditimbulkan oleh gempa.” tambah Didiek.

Dia mencontohkan power house PLTA Singkarak terbukti telah diguncang gempa dua kali sebesar 6,8 SR pada 2007 dalam waktu yang singkat, 30 menit, tapi struktur bangunan tetap aman. Padahal, jarak PLTA Singkarak dengan sesar gempa hanya 2 km. PLTA Singkarak memang didesain untuk tahan gempa. “Jadi kami merekomendasikan untuk membangun dam dengan kekuatan tegangan tarik tiga kali dari kekuatan tegangan tarik yang ditimbulkan oleh gempa,” lanjut dia.

“Kami telah melakukan penelitian secara mendalam dan detil sejak tahun 2016 tetapi data penelitian ini memang tidak dipublikasikan karena ini milik perusahaan. Jadi memang rekomendasi dan peringatan dari Profesor Tengku Abdullah Sani (professor ITB) telah kami lakukan, apa yang beliau katakan memang benar bahwa PLTA ini berada di zona merah. Kami bahkan telah melakukan penelitian mendalam dan detil jauh sebelum beliau diundang oleh Walhi. Penelitian ini kami lakukan pada tahun 2006 hingga 2007, dan sudah merupakan SOP untuk bangunan besar seperti PLTA Batang Toru ini.”

Mengenai powerhouse PLTA Batang Toru, Didiek menyebutkan masih mengacu pada ketentuan standard dari ICOLD, buletin no 148, bahwa powerhouse tidak dibangun di atas sesar, dan harus dibangun dengan kekuatan beton yang mampu menahan tiga kali dari daya yang kami rekomendasikan.

“Survei kami lakukan sejak tahun 2012 menggunakan metode multi channel geo resistivity works disambung lagi pada tahun 2014, micro earthquake observation di mana kami mendapatkan data telah terjadi beberapa kali gempa kecil dengan skala di bawah 2 SR atau tidak terasa oleh manusia. Tahun 2017 kami melakukan survei lebih detil dengan radius mencakup 100 km dari area PLTA Batang Toru,” tambah dia.

Bila melihat kembali data rekaman gempa dari tahun 1900 hingga 2018, kata Didiek, hampir semua wilayah Indonesia adalah area yang rawan gempa. Titik episentrum gempa merata di seluruh wilayah Indonesia. “Bila semua area yang timbul titik episentrum gempa itu dilarang membangun, kita tidak akan pernah membangun apapun,” tegas dia.



Sumber: Investor Daily