RSJ Soeprapto Bengkulu Bantah Kebanjiran Pasien Gangguan Jiwa Akibat Pemilu 2019

RSJ Soeprapto Bengkulu Bantah Kebanjiran Pasien Gangguan Jiwa Akibat Pemilu 2019
Penderita gangguan jiwa. ( Foto: Antara )
Usmin / FMB Selasa, 28 Mei 2019 | 10:19 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Seoprapto Bengkulu membantah kebanjiran pasien gangguan jiwa yang berasal dari pendukung capres yang kalah dalam Pemilu 2019.

"Tidak benar RSJ Soeprato Bengkulu kebanjiran pasien gangguan jiwa dari pendukung capres yang kalah, karena pasien yang kita tangani tidak semuanya berasal dari pendukung peserta Pemilu 2019," kata Kabag Humas RSJ Soeprapto Bengkulu, Sainuri kepada SP, di Bengkulu, Senin (27/5/2019).

Dijelaskan, pascadiumumkan hasil Pemilu, jumlah pasien yang berobat di RSJ Soeprapto mengalami peningkatan sekitar 10 persen dari pasien yang ada di rumah tersebut sekitar 150 orang.

"Jadi, penambahan pasien baru di RSJ Soeprapto pascadiumumkan hasil Pemilu 2019 hanya sekitar 15 orang, dan pasien mengalami gangguan jiwa atau stres tersebut, tidak semuanya berasal dari pendukung capres yang kalah, tetapi karena stres akibat faktor lain," ujarnya.

Meski demikian, Sainuri mengakui ada beberapa pasien mengaamui gangguan jiwa atau stres yang menjalani perawatan di RSJ Soeprapo berasal dari pendukung paslon presiden yang kalah, tetapi jumlahnya hanya beberapa orang saja.

"Sebagian dari mereka sudah kembali ke rumah karena stres yang dialami pasien bersangkutan selama menjalani perawatan di RSJ Soeprapto dalam waktu tertentu berhasil disembuhkan," ujarnya.

Pelayanan kesehatan terhadap pasien dimi RSJ Soeprapto Bengkulu semakin baik, karena sudah memiliki sejumlah dokter spesialis dan fasilitas pelayanan di rumah sakit ini lengkap, sehingga orang luar Bengkulu, banyak datang berobat ke RSJ daerah ini.

"Jadi, sekali saya tegaskan meningkatnya jumlah pasien di RSJ Soeprapto pascapemilu tidak semunya berasal dari pendukung capres yang kalah. Jika ada media yang memberitakan pascapemilu RSJ Soeprapto Bengkulu kebanjiran pasien gangguan jiwa yang berasal dari pendukung capres kalah, telah terjadi kekeliruan dalam menyimpulkan hasil wawancaranya dengan Direktur RSJ setempat," ujarnya.

Sainuri menambahkan, akibat pemberitaan tersebut RSJ Soeprapto Bengkulu banyak didatangi orang untuk menanyakan kebenaran berita tersebut, termasuk dari polisi dan dijelaskan bahwa kenyataanya sebenarnya tidak seperti yang diberitakan oleh media tersebut.

Rehabilitasi Narkoba
Pada bagian lain Sainuri menjelaskan, RSJ Soeprapto Bengkulu, tidak hanya merawat pasien gangguan jiwa dan stres saja, tetapi juga merahabilitasi atau merawat para korban penyalahgunaan narkotika, seperti pemakai ganja dan sabu.

Hingga saat ini, RSJ Soeprapto Bengkulu, sudah merabilitas korban pengguna narkoba lebih dari 100 orang. Mereka berasal dari anak muda, orang dewasa dan orang tua. Bahkan, ada korban narkoba yang menjalani rehabilitasi masih berusia di bawah umur.

Para pengguna narkoba menjalani perawatan di RSJ Soeprapto selama 3 bulan terturut-turun. Mayoritas mereka setelah menjalani rehabilitas sembuh dan tidak lagi tergantungan terhadap narkoba.

Sebagian besar korban narkoba yang menjalani rahabilitas di RSJ Soeprapto diantar langsung oleh keluarga dan sebagian lagi dibawa polisi karena terlibat kasus tindak pidana. Korban pengguna narkoba yang menjalani rehabilitas di RSJ tersebut, datang dari berbagai daerah di Sumatera.

Saat ini, jumlah korban pengguna narkoba yang menjalani rehabilitasi di RSJ Soeprapto sebanyak 20 orang. Korban narkoba yang menjalani perawatan di RSJ Seoprapto tidak dikenakan biaya karena semua biaya perawatan ditanggung Kementerian Kesehatan, katanya.



Sumber: BeritaSatu.com