Permintaan Extra Flight di Ngurah Rai Turun Drastis

Permintaan Extra Flight di Ngurah Rai Turun Drastis
Sebuah pesawat udara terbang melintas di atas jalan raya saat bersiap mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Senin (14/1/2019). Pemerintah Provinsi Bali berencana membangun bandara Internasional di Bali bagian utara untuk pemerataan pembangunan sekaligus mengurangi kepadatan aktivitas transportasi di kawasan Bali Selatan. ( Foto: ANTARA. / Nyoman Hendra Wibowo )
I Nyoman Mardika / FMB Rabu, 29 Mei 2019 | 09:52 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung mencatat adanya penurunan permintaan extra flight saat Hari Raya Idulfitri 1440 H/2019. Bahkan, penurunan tersebut yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pemicu anjloknya permintaan extra flight itu diduga lantaran tingginya harga tiket penerbangan.

Communication and Legal Section Head Angkasa Pura I Arie Ahsanurrohim, menerangkan permintaan extra flight yang sudah dilayangkan oleh maskapai sejauh ini mencapai 216 penerbangan dari dua maskapai yakni Batik Air dan Air Asia. Permintaan extra flight ini dikategorikan turun drastis dibanding tahun 2018 lalu. Berdasar catatan tahun sebelumnya terdapat 724 pengajuan extra flight.

“Pengajuan extra flight sampai saat ini sudah masuk 216. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, penurunannya mencapai 254 persen,” kata Arie saat ditemui di sela-sela pembukaan posko pengamanan Lebaran terpadu di Terminal Kedatangan Domestik Bandara Ngurah Rai, Selasa (28/5/2019) sore.

Diuraikan Arie, bahwa pengajuan extra flight ini tidak memberikan dampak kerugian bagi AP I. Bahkan, dari total keseluruhan pengajuan extra flight, tidak serta merta maskapai melayani rute yang sudah diajukan itu. Seperti halnya pada tahun 2018 lalu, realisasi pengajuan hanya mencapai 60 persen dari total keseluruhan.

“Kalau soal kerugian buat AP itu nggak ada. Ini kan sifatnya pengajuan, dan kami tetap menyediakan slot itu. Jadi tidak semua yang diajukan itu akan terbang atau melayani rute tersebut,” urainya.

Terkait turunnya permintaan, Arie mengaku ada beberapa faktor termasuk salah satunya harga tiket yang masih tinggi, sehingga wisatawan yang hendak datang berlibur ke Bali mengurungkan niatnya. Selain itu, faktor turunnya permintaan itu juga disebabkan oleh traffic yang terjadi di Bandara Ngurah Rai.

Salah satu contohnya pada bulan lalu, terjadi penurunan wisatawan domestik yang mencapai 9 persen. Padalah, untuk angkutan Lebaran, lebih condong pada angkutan domestik dan biasanya maskapai mengajukan sesuai kebutuhan saat ini. “Ini kan tergantung kebutuhan. Nah, kebutuhan ini akan dikalkulasi dengan sejarah, traffic, analisa dari masing-masing maskapai. Mereka juga tidak ingin merugi dan mengajukan sesuai kebutuhan mereka. Itu yang dilakukan (maskapai) saat ini,” tegas Arie.



Sumber: Suara Pembaruan