KLHK: Tidak Ada Masalah dengan Orangutan di Batang Toru

KLHK: Tidak Ada Masalah dengan Orangutan di Batang Toru
Dirjen Konservasi, SDA, dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK, Wiratno ( Foto: istimewa / istimewa )
Damiana Ningsih / DAS Rabu, 29 Mei 2019 | 13:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menurunkan tim pemantau (monitoring) pembangunan PLTA Batang Toru. Untuk mengetahui bagaimana hasil pemantauan yang dilakukan tim KLHK, Beritasatu.com berkesempatan berbincang dengan Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno, di Jakarta, Senin (27/5). Berikut ini perbincangannya.

Bagaimana update mengenai proyek PLTA Batang Toru?
Nggak ada masalah. Untuk orangutannya loh ya. Itu bagian saya. Nggak ada masalah.

Kalau tidak salah, Bapak mengirim tim untuk memantau?
Iya, tim memonitor terus, setiap hari. Terkait proses Amdalnya, Dirjen Planologi (Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, red) telah mengirimkan lagi ke Sekda untuk diperbaiki. Daftarnya panjang, mengenai apa saja yang harus diperbaiki. Salah satunya mengenai orangutannya.

Dari laporan tim monitoring seperti apa?
Nggak ada masalah.

Bapak juga mengirimkan tim ahli?
Iya. Banyak kesalahpahaman tentang dampak PLTA itu, katanya. Karena di luar itu masih ada tambang emas dan kebun sawit yang harus dievaluasi juga. Jadi, harus dilihat secara keseluruhan, dampak lansekap Batang Toru. Dilihat bersama. Jangan PLTA saja. Karena kemungkinan ada yang berdampak lebih besar. Karena nanti PLTA itu cuma membuka 65 hektare, yang luas itu kebun sawit. Mungkin harus diperhatikan lagi, sawitnya, tambang emasnya.

Posisi KLHK sendiri, apakah proyek ini direkomendasikan jalan terus?
Kan ada Amdal, yang memang harus diperbaiki dulu. Posisinya sudah ada masukan dari Dirjen Planologi.

Selama ini seperti apa upaya konservasi yang dilakukan di Batang Toru?
Itu kan lansekap ya. Ada Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK), Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL). Di sana ada 11 KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan, red), ada APL (Area Penggunaan Lain, red), yang diatur kan di APL. Tapi, hutannya masih bagus.
Di sana itu, masyarakatnya nggak mengganggu orangutan. Menariknya itu, mungkin karena ada traditional wisdom-nya.
Jadi, setiap ada panen, ada orangutan datang ke situ.

Belum dianggap mengganggu?
Nggak. Itu yang menarik. Karena traditional wisdom. Mungkin di tempat lain nggak begitu.

Kalau proyek ini berjalan, bagaimana nanti?
Harus ada program bersama, PLTA dan para pihak di situ, termasuk KPHK/KPHL. Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli kan ada pakar orangutannya.
Dari KLHK sendiri, ada instruksi mengenai orangutan itu. Kepada para pelaku di situ, baik KPH-nya maupun PLTA-nya juga tambang emas yang ada di situ.
Bantu kami, laporkan, kalau ada yang terjerat dan tertangkap. Harus bersama melakukan itu.

Apakah pernah ada proyek serupa dengan PLTA Batang Toru ini?
Proyek PLTA dengan kondisi area sensitif, baru Batang Toru ini.

Apakah dari proyek ini bakal dibuat SOP (Standard Operating Procedure) baru untuk proyek serupa nantinya?
Dari sekarang sudah perlu mulai dibuat SOP-nya, untuk penyelamatan orangutan. Dari pusat bersama pakar orangutan. Itu yang akan kita lakukan.

Masih ada yang mengkritik proyek PLTA ini, pendapat Bapak?
Ya, mereka harus diajak. Kalau saya, yang mengkritik itu kita ajak kerja bareng. Monitoring bersama, bertemu masyarakat, melihat dampaknya.

PLTA Batang Toru melakukan pelatihan konservasi kepada masyarakat setempat, pendapat Bapak?
Iya, saya dikasih tahu. Bagus saja. Asal yang melatih pakar orangutan.

Dari sisi ekonomi, menurut KLHK, proyek ini apakah memang diperlukan?
Ya. Dari mitigasinya, kalau mau bersaing dengan batu bara, dalam hal kaitan dengan perubahan iklim. Ini energi bersih yang memerlukan hutan bagus supaya pasokan airnya kontinyu. Kalau hutannya rusak, lalu sumber airnya mati, kan yang rugi dia (pengembang PLTA, red). Artinya, dia harus menjaga hutan. Jadi, ada link-nya antara listrik, air, dan kelestarian hutan.

Apakah itu yang menjadi pertimbangan KLHK atas proyek ini?
Iya, termasuk energi geothermal. Mungkin ini perang energi, perang politik. Karena kekuatan kita besar.

Terkait dokumen Amdal, untuk upaya konservasi orangutan, bagaimana rekomendasi KSDAE?
Harus menjaga orangutan. Saya dengan tim memonitor terus, untuk mitigasinya, kalau ada konflik antara manusia dengan orangutan. Prinsip kehati-hatian, itu utama. Saya akan meminta NSHE (PT North Sumatera Hydro Energy, red) memaparkan apa saja yang sudah dijalankan untuk memenuhi Amdal. Rencana, setelah Lebaran.
Tim NSHE juga harus melakukan survei sebelum pembukaan (proyek berjalan), bagaimana kondisi orangutannya di sana. Surveinya harus dengan pakar orangutan. Jadi, nanti ketahuan, kondisinya sebelum dan sesudah proyek seperti apa? Dan, jangan sampai ada korban. Lalu, pohon yang nanti ditebang dikemanakan? Kan harus ada izinnya? Apakah dijual?

Lalu, kalau nanti proyek berjalan, apakah orangutannya terdesak ke pemukiman masyarakat?
Masyarakat di sana itu baik, nggak akan membunuh orangutan. Kalaupun orangutannya ke wilayah masyarakat, nggak akan mengganggu pertanian di sana. Lokasi wilayah di sana itu juga sangat luas. Makanya, penting membangun bridge canopy untuk menjembatani nanti ke lokasi yang hutannya masih lebih utuh.



Sumber: Investor Daily