Menjaga Kelestarian Ikan Batak

Menjaga Kelestarian Ikan Batak
Anton Sihombing memanen hasil budidaya ikan jurug ( Foto: istimewa / istimewa )
Nurjoni / DAS Rabu, 29 Mei 2019 | 13:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pengembang proyek PLTA Batang Toru menjamin tidak akan mengganggu habitat satwa air serta ekosistem di wilayah operasi PLTA di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. NSHE melakukan berbagai upaya untuk konservasi satwa serta air di lingkungan proyek.

Salah satu satwa yang diupayakan konservasinya adalah ikan jurung yang berkembang biak di sungai Batang Toru. Ikan jurung merupakan primadona bagi masyarakat Batak. Pasalnya, pada zaman dahulu ikan ini digunakan untuk acara-acara adat dan hanya disajikan dan boleh dinikmati untuk raja-raja Batak. Karenanya, ikan jurung juga dikenal sebagai ikan Batak di kalangan masyarakat Sumatera Utara.

Dalam upaya melestarikan ikan jurung ini, NSHE melakukan pembinaan masyarakat dan pelestarian ikan jurung dengan nama Program Jurung Margotti Gotti.

Pihak NSHE bekerja sama dengan Marihot Anton Sihombing, pembudidaya benih ikan jurung di Sumatera Utara, untuk memajukan teknologi yang dapat digunakan pada kolam penangkaran. NSHE ingin sungai Batang Toru kembali diisi ikan jurung sebanyak-banyaknya seperti sedia kala.

Kerja sama bidang pengembangan dan restoking (mengembalikan ke habitat aslinya) sudah dibangun. "NSHE memfasilitasi segala obat obatan, bangunan hacthry indoor dengan fasilitas 45 akuarium untuk pembenihan buatan," kata Anton kepada wartawan di lokasi hacthry indoor di Desa Padang Lancat Sisoma, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, beberapa waktu lalu.

Anton diberikan pelatihan budidaya ikan di Bogor pada 2017 dan ilmu serta teknologi yang dipelajarinya tersebut kemudian dipraktikkan di hatchery indoor ini. Sebelumnya ia melakukan pengembangbiakan secara manual, dan tingkat keberhasilannya kurang dari 30% dari total telur yang dihasilkan induk.

Saat ini, tidak mudah menemukan ikan jurung di perairan Indonesia. Dengan kerja sama ini dan dilakukannya riset serta pengembangbiakan secara terus menenus, diharapkan dapat menambah populasi dan tetap menjaga kelestasian ikan jurung.
"Setelah bekerja sama dengan NSHE dibangun hatchery indoor dan pemijahan bisa berhasil 90%. Ke depan kita berkeyakinan kata-kata punah ikan jurung ini akan jauh," ujarnya.

Budidaya ikan jurung juga mendatangkan manfaat ekonomi bagi Anton dan kelompoknya. Dalam satu akuarium Anton mengaku dapat menampung hingga 1.500 ekor ikan yang masih bayi, tetapi ia hanya mengisinya dengan 1.000 ekor sehingga tidak terlalu padat. Bila satu ekor bibit ikan jurung berukuran panjang 3 cm dihargai Rp 5.000, maka satu akurium bisa menghasilkan uang senilai Rp 5 juta. Jika dikali 45 akuarium maka Anton dan kelompoknya bisa mengantongi Rp 225 juta dalam sekali panen.



Sumber: Investor Daily