Keanehan Perkara Komut PT Hosion Sejati, Jaksa Serahkan Dakwaan di Sidang Kedua

Keanehan Perkara Komut PT Hosion Sejati, Jaksa Serahkan Dakwaan di Sidang Kedua
Tim penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat yaitu Lumumba Tambunan, Endang Rahmawati, dan Santoso, untuk perkara terdakwa Kang Hoke Wijaya, Komisaris Utama PT Hosion Sejati. ( Foto: beritasatu,com / Nurlis E Meuko )
Nurlis E Meuko / NEF Rabu, 29 Mei 2019 | 16:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kisruh antarpemegang saham perusahaan pengadaan alutsista TNI, PT Hosion Sejati, telah bergulir di meja hijau. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dipimpin Agustinus Setyawahyu mulai mengadili perkara ini sejak Selasa (28/05/2019). Namun ada keanehan, di persidangan terungkap jaksa penuntut umum tak menyerahkan berkas dakwaannya setelah melimpahkan perkara ini ke pengadilan.

Tim penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat yaitu Lumumba Tambunan, Endang Rahmawati, dan Santoso, menghadirkan terdakwanya Kang Hoke Wijaya, yaitu Komisaris Utama PT Hosion Sejati. Jaksa mendakwa Kang Hoke dengan pasal 372 dan 374 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai perbuatan penggelapan dalam jabatan. Selain itu, jaksa menuduh Kang Hoke melakukan tindak pidana pencucian uang.

Sebetulnya persidangan yang dihadiri tim jaksa itu adalah persidangan yang kedua. Namun, sebelumnya sidang ditunda karena jaksa tak hadir. Persoalan lainnya, adalah keanehan dalam prosedur persidangan. Jaksa penuntut umum tak memberikan berkas dakwaan kepada terdakwa dan kuasa hukumnya setelah berkas dilimpahkan ke pengadilan.

Kuasa hukum terdakwa, Nico SH MH dari Kantor Hukum Lex Dafaniro, mengatakan jaksa tidak memperhatikan pasal 143 ayat (4) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Sebab, kata Nico, di situ disebutkan turunan surat pelimpahan perkara beserta surat dakwaan disampaikan kepada tersangka atau kuasanya atau penasihat hukumnya dan penyidik, pada saat yang bersamaan dengan penyampaian surat pelimpahan perkara tersebut ke pengadilan negeri.

Seharusnya begitu berkas dilimpahkan ke pengadilan, kata Nico, penuntut wajib menyerahkan seluruh turunan berkas pelimpahan beserta surat dakwaan kepada terdakwa untuk kepentingan terdakwa dan penasihat hukumnya mempersiapkan pembelaan atau eksepsi atas dakwaan. "Kenyataannya terdakwa Kang Hoke Wijaya baru menerima surat dakwaannya pada sidang 28 Mei 2019. Namun berkas dakwaan yang diserahkan jaksa tidak disertai turunan berkas lainnya," katanya kepada Beritasatu.com.

Itulah sebabnya, pada pada saat sidang penasehat hukum, Nico, sampai memohonkan kepada majelis hakim agar jaksa memberikan salinan berkas pelimbahan terdakwa yang berkaitan dengan dakwaan terhadap terdakwa Kang Hoke. Setelah itulah, jaksa baru akan memberikan berkas tersebut pada 29 Mei 2019.

Padahal Sudah Damai

Sebetulnya, perkara Kang Hoke ini sudah banyak kejanggalannya sejak ditangani penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri. Sebab perkara ini terus diproses kendati pihak pelapor ATS dan Kang Hoke telah berdamai pada 1 Februari 2019.

Kasus ini pun bergulir ke ranah hukum setelah Kang Hoke -selaku pemilik 60 persen saham PT Hosion- menemukan sejumlah pelanggaran di perusahaannya. Termasuk di antaranya adalah deviden untuknya yang macet sejak 2015 hingga 2019. Jadi jika diakumulasi, kata Kang Hoke, ia menderita kerugian mencapai Rp 200 miliar.

Tak hanya itu, ternyata akte perusahaan telah berubah tanpa sepengetahuannya. Kang Hoke menemukan fakta perubahan akte oleh ATS pada notaris berinisial S di Subabaya, Jawa Timur. Dalam akte perubahan, muncul nama ATS yang mengangkat dirinya sendiri menjadi direktur utama. "Kok bisa perubahan akte itu dilakukan tanpa RUPS?," kata Kang Hoke kepada Beritasatu.com.

Padahal di akte perusahaan bernomor 41 tanggal 28 Maret 2013, nama direktur utama adalah Susiana yang tidak lain adalah ibu kandung ATS yang sekarang sudah almarhumah. Masalah lainnya, adalah saham Kang Hoke juga sudah beralih ke tangan ATS. "Aneh kan, ada juga saham berubah kepada adik dari almarhumah Susiana, kok bisa saham saya beralih begitu saja. Tanpa RUPS dan serah terima yang sah,” katanya.

Maka Kang Hoke melaporkannya ke Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri, pada 3 Mei 2018. Penyidik Dittipidum menindaklanjuti dan menetapkan ATS sebagai tersangka. Ternyata ATS juga membuat laporan yang menuduh Kang Hoke menggelapan uang perusahaan pada Desember 2012-Desember 2014. ATS melaporkan ke Dittipideksus Bareskrim Polri pada 4 Juni 2018. Penyidik Dittipideksus menetapkan Kang Hoke sebagai tersangka pada Desember 2018.

Belakangan, keluarga ATS menjumpai Kang Hoke untuk meminta perdamaian dan kasusnya ditutup di Dittipidum. Ini terjadi saat ATS ditahan oleh Dittipidum sejak 29 Januari 2019. "Setelah ATS mengakui segala kesalahannya selama ini terhadap saya, dan saya mempertimbangkan pernah dekat dengan keluarga ATS, maka saya menyetujui perdamaian dengan sejumlah persyaratan yang dibuat oleh ATS tanpa ada paksaan," katanya.

Poin penting dalam kesepakatan damai itu adalah keduanya mencabut laporan polisi masing-masing, dan ATS menjalankan kewajiban perusahaan untuk membayar semua deviden yang menjadi hak Kang Hoke. Perjanjian damai yang dibuat di hadapan penyidik itu juga kemudian dituangkan dalam akte notaris Sukawaty Sumardi di Jakarta yang ditandatangani kedua belah pihak termasuk saksi-saksi dari pengacara masing-masing.

Ternyata, setelah terbit kesepakatan damai, hanya Kang Hoke yang menangguhkan laporannya di Dittipidum Bareskrim Polri. Hingga ATS yang sempat mendekam dalam tahanan polisi selama tiga hari, langsung dibebaskan pada 1 Februari 2019. Sedangkan ATS, setelah dilepaskan dari tahanan malah mengingkari kesepakatan damai dan tidak menggubris akte perdamaian, malahan laporannya di Dittipideksus dilanjutkan.

“Walau sudah ada kesepakatan damai, Dittipideksus Bareskrim Polri langsung menjebloskan saya ke dalam tahanan sejak 25 Februari 2019 hingga sekarang,” katanya. Bagi Kang Hoke, tindakan penyidik Dittipideksus telah mengabaikan penerapan azas restorative justice sesuai Surat Edaran Kapolri Nomor 8 Tahun 2018. "Saya sangat merasa dizalimi dan menjadi korban rekayasa,” katanya.

Ratusan miliar perputaran uang di sejumlah rekening perusahaan, namun laporan pajak perusahaan tersebut ternyata tidak benar

Manipulasi Pajak

Kendati merasa dizalimi, Kang Hoke tetap bertindak koperatif. Ia menyarankan kepada penyidik Dittipideksus untuk memeriksa aliran dana yang sebenarnya. "Sebagai catatan dan untuk mencari kebenaran, saya juga minta penyidik meminta memeriksa rekening PT Hosion Sejati di beberapa bank termasuk mutasinya. Di situ ketahuan apakah saya berbuat seperti dituduhkan itu atau tidak?”, katanya.

Kang Hoke juga meminta Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) agar turun tangan untuk membuka semua rekening perusahaan pemasok alutsita miliknya itu. "Ternasuk semua rekening koran pemegang sahamnya," kata Kang Hoke Wijaya, Kamis (16/5/2019).

Kang Hoke mengatakan, PPATK perlu juga memeriksa seluruh mutasi keuangannya di semua rekening itu. "Takutnya kalau tidak diaudit-audit atau diblokir rekening-rekening yang terlibat uang-uang yang harusnya disita untuk negara dari penggelapan pajak maka akan dibawa keluar," katanya.

Selain itu, kata Wijaya, audit itu akan mengungkap manipulasi pajak yang terjadi dalam perusahaan. Selama ini PT Hosion menjalin bisnis dengan sejumlah negara. "Ratusan miliar perputaran uang di sejumlah rekening perusahaan, namun laporan pajak perusahaan tersebut ternyata tidak benar,” katanya.

Ia menyebutkan NPWP PT Hosion bernomor 01.466.141.7-606.000 di Jalan Manyar Tirtonoyo VII Nomor 18, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur. “Silahkan saja dicek dan bandingkan dengan pendapatan perusahaan, apakah masuk akal atau tidak ? Saya yakin ada manipulasi pajak, sehingga mereka tak mau mengaudit perusahaan secara terbuka dan jujur. Apalagi pada 2015, PT Hosion ternyata tak ikut tax amnesty. Ini kan aneh perusahaan sebesar itu tak mau ikutan,” katanya.

Selain itu, KHW menyampaikan bahwa selama hakim belum memvonisnya bersalah ia akan terus berjuang untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. "Saya selalu berdoa kepada Tuhan, pada akhirnya saya yakin kebenaran tetap akan terungkap. Saya tetap bersyukur karena itu adalah rencana yang indah buat kehidupan saya di dunia ini,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com