BNN Jateng Musnahkan 794 Gram Sabu

BNN Jateng Musnahkan 794 Gram Sabu
Gubernur Ganjar Pranowo bersama Kepala BNNP Jawa Tengah, Brigjen Pol Benny Gunawan memusnahan barang bukti Narkotika total sebanyak 794 gram yang disita dari dua tersangka kurir Hadi Haryono als Pakde dan Dedy Ariyanto als Dedy Nahumury, Rabu (29/5/209). ( Foto: Beritasatu Photo / Stefy Thenu )
Stefi Thenu / FER Rabu, 29 Mei 2019 | 19:23 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) memusnahkan barang bukti sabu seberat 794 gram, yang diselundupkan ke Jateng dari Batam.

Modus yang digunakan pengedar dari Batam untuk masuk ke Jateng, dengan memasukkan sabu ke dubur. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak lima kantong kemasan pelaku masukkan di dubur. Rencananya sabu tersebut bakal diedarkan di beberapa daerah, khususnya Semarang.

"Yang kita musnahkan hari ini luar biasa. Ini betul-betul kerja intelijen. Jadi dari Batam mau dikirim ke sini informasi sudah tercium dulu. Karena mendeteksi secara fisik sulitnya minta ampun. Karena mereka polanya tidak ditenteng tapi dimasukkan ke dalam dubur. Dan itu detektif agak sulit. Maka ketika ada informasi, sudah dideteksi dahulu. Orangnya ketahuan baru di cek. Cara atau modus yang seperti ini harus membuat kita lebih jeli dan hati-hati. Maka kolaborasi ini harus dijalani dengan serius," kata Ganjar saat menghadiri pemusnahan barang bukti narkotika jenis sabu di kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi Jateng di Jalan Madukoro Semarang, Rabu (29/5/2019).

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Benny Gunawan menambahkan, sabu yang dimusnahkan itu berasal dari jaringan pengedar Semarang - Batam - Malaysia. Barang haram tersebut didapat dari dua orang pelaku yang masih satu jaringan Semarang - Batam.

Mereka adalah Hadi Haryono alias Pakde yang ditangkap di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang dengan barang bukti sabu seberat 250 gram. Setelah dilakukan pengembangan atas penangkapan Pakde, pelaku lain yakni Dedy Nahumury pun diringkus oleh BNN di Perumahan Marina Garden Batam dengan barang bukti sabu seberat 650 gram.

Benny mengatakan, meski barang bukti yang diamankan sedikit, namun ini modus operandi baru. Bisa jadi narkoba yang belum bisa diungkap BNN jauh lebih besar daripada yang diamankan.

"Tiap tahun di Jawa Tengah lebih dari 10 kg sabu yang beredar. Januari - Mei ini telah menetapkanmapkan ,7 kasus 20 tersangka sabu," katanya.

Ganjar lebih lanjut menuturkan, punggawa bangsa ini punya kepentingan besar karena tidak ingin anak-anak negara ini menjadi hampa atau tidak memiliki harapan. Karena sesuai sifat yang ditimbulkan usai mengkonsumsi, narkoba memang penghancur generasi bangsa. Maka untuk penindakan tidak pandang bulu, semua sama di hadapan hukum.

"Sebenarnya sudah ada peraturannya, sudah ada undang-undangnya. Tidak perlu sampai pada aturan yang lebih detail. Kita bekerja saja dengan cara itu. Dan saya pernah memecat pegawai yang memakai narkoba, dan ternyata penerimaan PNS soal itu, kan cuma sedikit pak. Kasihan. Tapi saya tidak mau toleran. Begitu kita toleran soal itu, maka sebenarnya kita tidak tegas soal pemberantasan narkoba. Maka kalau ada yang terlibat copot saja," katanya.

Selain itu Ganjar juga mendorong agar pemerintah kabupaten maupun kota di Jawa Tengah yang belum memiliki BNN agar segera dirembug agar peredaran narkoba langkahnya semakin menyempit. Karena memang tidak semua BNN ada di Pemkab/Pemkot.

"Dulu BNNP ini tidak punya fasilitas. Bagaimana BNNP akan melaksanakan tugas jika mereka tidak punya tempat, maka kita sebagai pemerintah daerah menghibahkan agar BNN punya tempat. Kalau ada kejadian luar biasa solusinya penindakan, kita akan operasi gede-gedean, pasti," tegas Ganjar.



Sumber: Suara Pembaruan