11% Sopir Bus di Terminal Jakarta Tidak Laik Mengemudi

11% Sopir Bus di Terminal Jakarta Tidak Laik Mengemudi
Pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), menjalani tes kesehatan dan tes urine di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Rabu 6 Juni 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Herman / WBP Senin, 3 Juni 2019 | 13:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk bisa mengemudikan bus yang membawa para pemudik, setiap sopir terlebih dahulu harus melakukan pemeriksaan kesehatan. Ada empat parameter yang menjadi pemeriksaan, yaitu tekanan darah, kadar gula darah, amfetamin urine, dan kadar alkohol.

Pengelola Kesehatan Kerja dan Olahraga dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Asmida Maryani menyampaikan, untuk keseluruhan terminal bus di Jakarta selama periode 29 Mei hingga 2 Juni 2019, sudah ada 2.237 sopir bus yang diperiksa kesehatannya. Dari jumlah tersebut, 64 persen dinyatakan laik mengemudi, 24 persen laik mengemudi dengan catatan, dan 11 persen tidak laik mengemudi.

"Untuk yang hasilnya laik mengemudi dengan catatan, mereka harus diberikan pengobatan terlebih dahulu sebelum diizinkan mengemudi. Sementara yang tidak laik mengemudi, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, nantinya mereka yang akan menghubungi perusahaan otobus untuk dicarikan sopir pengganti, " kata Asmida Maryani, di posko kesehatan Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Senin (3/6/20).

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, para sopir bus yang tidak laik mengemudi itu kebanyakan mengalami keluhan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah tinggi.

"Surat keterangan laik mengemudi ini berlaku selama 24 jam. Setelah melewati waktu tersebut, seluruh sopir bus harus melakukan pemeriksaan ulang untuk bisa ditentukan apakah dia laik mengemudi atau tidak," ujar Asmida Maryani.



Sumber: BeritaSatu.com