Polemik Masjid Al Safar

MUI Tegaskan Desain Masjid Tidak Harus Seragam

MUI Tegaskan Desain Masjid Tidak Harus Seragam
ā€ˇMasjid Al Safar yang terletak di tempat istirahat KM 88 B Tol Cipularang-Padaleunyi. ( Foto: istimewa )
Maria Fatima Bona / FER Senin, 3 Juni 2019 | 19:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Warganet ramai mempertanyakan desain masjid Al Safar yang berada di Rest Area Km 88 Tol Cipularang-Padaleunyi arah Jakarta. Mereka menilai desain tempat ibadah itu tidak seperti masjid pada umumnya.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia(MUI), Zainut Tauhid Sa'adi, menegaskan, dalam Islam tidak ada aturan bentuk masjid harus seragam. Karena hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi dan budaya dari suatu daerah atau negara tertentu.

"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan (HR Muslim). Seni arsitektur Islam merupakan kreasi dan inovasi yang dapat memperkaya keindahan dan keelokan dalam Islam itu sendiri. Sepanjang seni tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam," terang Zainut dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Senin(3/6/2019).

Zainut melanjutkan, di beberapa negara Islam lain misalnya selain menara, elemen arsitektur masjid yang kerap kali digunakan adalah kubah. Sementara kalau ditilik dari sejarah menara dan kubah itu sendiri bukan berasal dari Islam. Menara misalnya itu berasal dari kata 'manaroh' yang artinya tempat menaruh api, dan hal itu biasanya digunakan untuk peribadatan agama majusi yaitu agama yang menyembah api.

Zainut menyebutkan, kubah juga tidak identik dengan arsitektur Islam. Kubah dapat ditemukan dalam bangunan sejarah lain seperti istana raja, gedung kantor, madrasah, rumah sakit, bahkan untuk sebuah gereja.

"Jadi kubah bisa berada di gereja, masjid, atau temple, tempat peribadatan masyarakat pagan jauh sebelum datangnya agama Kristen dan Islam," terang Zainut.

Oleh karena itu, Zainut menuturkan, Masjid Kudus dan Demak juga tidak bisa dilepaskan dari proses akulturasi budaya Islam dan Hindu. Hal ini merupakan bentuk kearifan lokal yang menjadi kekuatan dakwah para pendakwah di Tanah Jawa yaitu para Wali Songo.

"Masih banyak contoh lain, yang hal tersebut menunjukkan keindahan dan kemuliaan Islam. Jadi, jangan hanya karena mendasarkan pada asumsi, dugaan dan pikiran kerdil kemudian menyebarkan informasi yang dapat menyesatkan umat Islam," tandas Zainut.

Zainut meminta kepada masyarakat untuk tidak mempertajam polemik masalah desain dari pembangunan Masjid Al Safar yang kini viral di media sosial (medsos). Pasalnya, MUI menilai masjid tersebut sah untuk dijadikan tempat beribadah.

"Masyarakat hendaknya bijak dalam mencerna informasi dan jangan sampai termakan informasi yang keliru sehingga menimbulkan pemahaman masalah agama yang tidak benar," pungkas Zainut.



Sumber: BeritaSatu.com