KPK Sudah Deteksi Aset Sjamsul Nursalim

KPK Sudah Deteksi Aset Sjamsul Nursalim
Juru Bicara KPK Febri Diansyah membenarkan pembantaran penahanan tersangka suap di Kementerian Agama Romahurmuziy karena masih dirawat inap di RS Polri. ( Foto: Beritasatu TV )
Fana Suparman / CAH Kamis, 13 Juni 2019 | 11:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mendeteksi aset-aset milik tersangka kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI), Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim. Identifikasi aset-aset ini dilakukan untuk kebutuhan memulihkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 4,58 triliun akibat tindak pidana korupsi yang dilakukan pasangan suami istri tersebut.

"Kami sudah menemukan aset-aset yang diduga milik atau terafiliasi dengan tersangka," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Meski demikian, Febri masih enggan merinci aset-aset yang telah dideteksi KPK. Febri mengklaim hal ini berkaitan dengan teknis penyidikan.

"Secara lebih rinci tentu kami belum bisa menyampaikan karena proses penyidikan tersebut masih berjalan," katanya.

Diketahui, Sjamsul dan Itjih telah menetap di Singapura sejak beberapa tahun lalu. Namun, aset dan bisnis Sjamsul masih berjalan di Indonesia. Sjamsul memiliki sejumlah bisnis di bidang properti, batubara dan ritel.

Salah satunya, PT Gajah Tunggal Tbk. Meskipun namanya tidak tercantum dalam struktur perusahaan Gajah Tunggal, Sjamsul diduga masih mengendalikan perusahaan produsen ban tersebut.

Ruang lingkup kegiatan PT Gajah Tunggal Tbk yang melantai di bursa dengan kode emiten GJTL ini meliputi bidang pengembangan, pembuatan dan penjualan barang-barang dari karet, termasuk ban dalam dan luar segala jenis kendaraan, flap dan rim tape serta juga produsen kain ban dan karet sintesis. GJTL memproduksi dan memasarkan ban dengan merek Zeneos dan GT Radial. Tak hanya itu, Gajah Tunggal memiliki sejumlah anak usaha di antaranya PT Softex Indonesia (pembalut wanita), PT Filamendo Sakti (produsen benang), dan PT Dipasena Citra Darmadja (tambak udang, sewa gudang).

Nursalim selain itu juga menguasai saham Polychem Indonesia yang sebelumnya bernama GT Petrochem. Sjamsul juga diduga memiliki saham mayoritas di Mitra Adiperkasa, usaha tersebut menaungi sejumlah merk ternama seperti Sogo, Zara, Sport Station, Starbucks, hingga Burger King. Tak hanya itu, Sjamsul juga memiliki saham di Tuan Sing Holding, perusahaan properti yang berbasis di Singapura.

Diketahui, KPK telah menetapkan Sjamsul dan istrinya Itjih Nursalim sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerbitan SKL BLBI. Penetapan ini merupakan pengembangan dari perkara mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Temenggung yang telah dijatuhi hukuman 15 tahun pidana penjara dan denda Rp1 miliar subsider 3 bulan kurungan oleh Pengadilan Tinggi DKI dalam putusan banding.

Dalam kasus ini, Sjamsul dan Itjih diduga diperkaya atau diuntungkan sebesar Rp 4,58 triliun. Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Sjamsul dan Itjih disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.



Sumber: Suara Pembaruan