Kapolri Sebut 3 Kasus Menonjol Selama Operasi Ketupat

Kapolri Sebut 3 Kasus Menonjol Selama Operasi Ketupat
Jenderal Tito Karnavian. ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / FER Kamis, 13 Juni 2019 | 18:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, mengatakan, ada tiga kasus menonjol selama Operasi Ketupat, terkait pengamanan Ramadan dan Idulfitri 2019. Pertama, kasus teror bom bunuh diri di Kertasura, kemudian konflik di Buton, dan kerusuhan massa di Jakarta.

"Untuk keamanan ada tiga hal yang menonjol selama operasi ketupat ini. Pertama adalah serangan teror di Kertasura. Serangan teror bom bunuh diri, tapi bomnya tidak sempurna, dibuat sendiri, melakukan sendiri, lone wolf, dan yang bersangkutan tidak meninggal," ujar Tito, di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2019).

Dikatakan Tito, kondisi pelaku yang belakangan diketahui berinisial RA (22), sudah membaik dan bisa bicara. Detasemen Khusus 88 Antiteror kemudian melakukan pengembangan dan berhasil menangkap dua orang yang membantunya di daerah Solo dan Lampung.

"Kalau kita lihat mereka ini pendukung kecil ISIS. Jadi ada tiga orang, satunya (RA) masih hidup ya," ungkap Tito.

Kasus menonjol kedua, terang Tito, konflik yang melibatkan massa dua desa yakni, Desa Sampuabalo dan Gunung Jaya, di Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/6/2019). Pada peristiwa itu dua warga meninggal dunia dan 50 rumah dibakar.

"Bapak Gubernur Sulawesi Tenggara pak Ali Mazi, pangdam, kemudian kapolda sudah turun di lapangan. Sudah 83 orang yang kalau tidak salah ditangkap, dilakukan penegakan hukum," kata Tito.

Menurut Tito, selain penegakan hukum, aparat TNI-Polri juga melakukan rekonsiliasi dan rekonstruksi kembali terhadap rumah yang terbakar.

"Bapak panglima mengirimkan pasukan dari Makassar, ditambah dengan pasukan Brimob, sehingga dengan cepat bisa terkendali. Sekarang ini adalah proses penegakan berlanjut, kemudian proses rekonsiliasi dan rekonstruksi kembali terutama rumah-rumah yang terbakar sembari keamanan terus dijaga," jelas Tito.

Tito mengungkapkan, kasus menonjol ketiga adalah peristiwa kerusuhan massa di depan Bawaslu dan beberapa wilayah, di Jakarta, 21-22 Mei 2019.

"Ketiga, gangguan Kamtibmas masa operasi ini adalah peristiwa yang ada di Jakarta, yaitu di depan Bawaslu, sampai Tanah Abang dan daerah Menteng," tandas Tito.



Sumber: BeritaSatu.com