Relawan Berjuang Bantu Korban Banjir di Konawe Utara

Relawan Berjuang Bantu Korban Banjir di Konawe Utara
Warga turun dari rakit sambil mengendong anaknya di jalan Trans Sulawesi penghubung Sulawesi Tenggara-Sulawesi Selatan yang terendam banjir di Desa Pondidaha, Konawe, Sulawesi Tenggara, Jumat 14 Juni 2019. ( Foto: Antara Foto / Jojon )
/ YUD Sabtu, 15 Juni 2019 | 20:48 WIB

Konawe, Beritasatu.com - Para relawan harus berjuang hingga mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk pergi-pulang, guna membawa bantuan logistik ke daerah terdampak banjir di Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Untuk membawa bantuan logistik kita harus membayar sewa rakit sampai Rp300 ribu sekali lewat, sebenarnya kita mengerti kalau ada yang membantu kita menyeberang, tapi harganya juga berlebihan sekali, tapi kami pasrah, karena kami tidak bisa menyeberang kalau tidak pakai rakit, apalagi ini tugas kemanusiaan," kata seorang relawan, Munawir (31), di Konawe, Sabtu (15/6/2019).

Akibat jembatan putus di Desa Andadowi, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe para pengendara yang hendak melintasi wilayah tersebut harus menggunakan rakit yang dibuat warga desa itu.

Ia mengatakan meskipun sewa rakit mahal, hal itu bukan menjadi masalah karena mereka membawa bantuan logistik untuk korban banjir di Konawe Utara.

Seorang pengemudi yang hendak mengunjungi keluarganya yang ikut menjadi korban banjir di Desa Pusuli, Kecamatan Andowia, Konawe Utara, Usman (38), mengatakan hal senada dengan Munawir.

“Saya mau pergi jenguk keluarga yang terkena banjir di Desa Pusuli, saya bawa beras, telur, mi, dan pakaian, saya kira sewa rakitnya Rp100 ribu atau Rp150 ribu. Eh, ternyata Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, tapi meskipun harganya begitu kita tetap sewa rakit itu," kata dia.

Harga sewa yang dibebankan kepada para pengendara roda empat jenis minibus bervariasi, sesuai beban yang dimuat. Untuk sekali menyeberang, pengendara mobil harus mengeluarkan biaya senilai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu sekali melintas.

Untuk melintasi banjir dengan menggunakan rakit di wilayah itu, pengendara sepeda motor harus membayar Rp15 ribu, sedangkan untuk orang Rp10 ribu sekali menyeberang

"Sekali menyeberang saya bayar Rp15 ribu, kalau mobil yang menyeberang saya dengar sampai Rp300 ribu sekali menyeberang, tapi kalau orang hanya Rp10 ribu," kata Aldi (23), salah satu karyawan tambang di Morosi

Pengemudi rakit, Yusran (28), mengatakan tarif Rp200 ribu hingga Rp300 ribu itu karena jasa rakit sekali menyeberang membutuhkan tenaga sampai 11 orang sehingga harus berbagi. Selain itu, mereka selalu berendam dalam air sampai berjam-jam lamanya.

"Kami ada 11 orang, tapi terhitung 12 dalam membagi hasil, satu orangnya dihitung rakit dan diberikan kepada pemilik rakit, kita bantu menyeberangkan kendaraan dengan berendam dalam air dari pagi sampai malam, maka wajar kami patok harga Rp200 ribu, belum lagi kalau muatannya berat, kita kasih Rp300 ribu, karena dorongnya susah dan kadang rakit sempat patah," katanya.

Berdasarkan pantauan di Desa Andadowi, hingga Sabtu genangan air semakin bertambah, namun pengendara, baik roda dua maupun empat, tetap memadati desa tersebut untuk antre menyewa rakit.



Sumber: ANTARA