Kesadaran Akan Bahaya Sampah Plastik Perlu Diperkuat

Kesadaran Akan Bahaya Sampah Plastik Perlu Diperkuat
Presiden Director Dow Indonesia, Vichan Tangkengsirisin, tengah menjelaskan tentang Indonesia Partnership on Plastic Waste Management (IP2WM). ( Foto: Beritasatu Photo / Feriawan Hidayat )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 9 Mei 2019 | 13:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berbagai jenis sampah, terutama dari plastik, yang tidak dikelola dengan baik dan benar sangat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Kesadaran akan bahaya sampah plastik tersebut harus ditanamkan sejak dini, terutama pada anak-anak dan remaja.

Presiden Director Dow Indonesia, Vichan Tangkengsirisin, mengatakan, Dow Indonesia sendiri merupakan salah satu inisiator dalam pembentukan Indonesia Partnership on Plastic Waste Management (IP2WM). Organisasi ini, didirikan sebagai bentuk kolaborasi antar stakeholder dalam membantu pemerintah mencapai target pengurangan sampah pada 2025 mendatang.

"Pendirian IP2WM berawal dari keprihatinan banyaknya negara di kawasan yang mengalami kendala dengan masalah sampah. Terlebih, Presiden Jokowi telah mencanangkan pengurangan sampah dengan menerapakan konsep 3R, dengan target pengurangan sampah plastik hingga 70 persen di tahun 2025,” ujar Vichan dalam wawancara khusus dengan Beritasatu.com, di Jakarta, belum lama ini.

Aspal Plastik

Menurut Vichan, salah satu terobosan program IP2WM mengenai pengolahan sampah adalah mencampur sampah plastik polyethylene untuk dijadikan bahan aspal. Percobaan pertama untuk jalan aspal dengan menggunakan limbah plastik telah berhasil diselesaikan di Depok, pada kuartal ketiga 2017. Sebanyak 3,5 metrik ton bahan limbah plastik dicampurkan pada aspal untuk membuat jalan sepanjang 1,8 kilometer, yang mencakup area seluas 9.781 meter persegi (m2).

"Teknologi yang ada di balik pembuatan jalan dengan mengunakan limbah plastik ini, cukup sederhana untuk diaplikasikan secara luas di Indonesia. Kami yakin terobosan ini akan dapat mengurangi volume sampah plastik yang dihasilkan Indonesia," ujar Vichan.

Vichan menambahkan, plastik sejatinya bisa menciptakan sirkular ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pasalnya, industri plastik termasuk prioritas dan bisa mendorong ekonomi lebih baik lagi. "Namun, di Indonesia sendiri, industri plastik masih dihadapkan pada tantangan terkait sampah," kata Vichan

Vichan menjelaskan, masalah lingkungan tentunya bukan hanya karena masalah plastik, melainkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah. "Jika kesadaran konsumen sudah tinggi maka masalah lingkungan akan teratasi," tandas Vichan.

Menurut Vichan, melalui program 3R (Reuse, Reduce, Recycle) Innovation DOW, masyarakat dapat ikut serta dalam program pengurangan sampah dengan terlebih dahulu melakukan pemilahan di tempat tinggalnya. Pasalnya, sampah rumah tangga sejatinya dapat dipilah menjadi empat kategori yaitu, sampah organik, sampah plastik, sampah nonplastik dan sampah residu. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pondok Pesantren (Ponpes) di Cirebon.

"Melalui program ini, kami ingin mengubah pandangan tentang sampah sebagai sesuatu yang berguna. Melalui sistem pemilahan yang baik dan benar, sampah bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis," pungkas Vichan.



Sumber: BeritaSatu.com