Sebagian Besar Ajaran Ahlussunnah Waljamaah di Internet Palsu

Sebagian Besar Ajaran Ahlussunnah Waljamaah di Internet Palsu
Warga Nahdlatul Ulama Wonosobo memberi dukungan untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf di Alun-alun Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (27/3/2019). ( Foto: istimewa )
Aries Sudiono / FMB Senin, 17 Juni 2019 | 15:22 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Kajian para dosen dan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, sebagai bagian dari intelektual keluarga besar Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU), menemukan ratusan situs ahlussunnah waljamaah (Aswaja) palsu di internet. Situs-situs tersebut memuat ajaran Islam dengan menggunakan nama Aswaja, namun isinya melenceng dari nilai-nilai Aswaja An Nahdliyyah yang selama ini dipedomani warga Nahdlatul Ulama atau nahdliyyin.

“Saya pernah menugaskan mahasiswa cerdas guna meneliti semua situs Islam di internet. Hasilnya, 67 persen berisi ajaran Aswaja palsu. Sisanya 33 persen, termasuk Aswaja, itu pun, bukan Aswaja yang dipedomani NU sebagaimana mestinya. Oleh karenanya masyarakat diimbau agar waspada dan hati-hati serta tidak begitu saja mempercayai informasi yang ditulis di internet karena ternyata banyak situs Aswaja palsu,” ujar KH Muhibbin Zuhri, dosen UINSA Surabaya dalam keterangan persnya, Minggu (16/6/2019).

Lebih lanjut dikemukakan KH Muhibbin Zuhri yang juga Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya itu berhara agar masyarakat muslim, utamanya nahdliyyin untuk tidak mudah dan serta merta mengambil rujukan dari internet yang mendompleng Aswaja.

“Belajar harus pada tempatnya dan gurunya (Aswaja) yang tepat, agar tidak tersesat,” kata dia sambil mengingatkan agar nahdliyyin berupaya keras memakmurkan masjid di wilayah masing-masing. Sebab, belakangan, banyak masjid yang awalnya beramaliah Aswaja An Nahdliyyah, berubah dengan ajaran paham radikal yang gemar mengafirkan dan membidahkan amaliah warga NU.

“Padahal masjid-masjid itu awalnya didirikan oleh keluarga besar NU. Bahkan masjid itu dihibahkan untuk syiar NU. Namun karena warga NU akhir-akhir ini lebih senang salat di rumah-rumah dengan berbagai alasan, akhirnya masjid menjadi melompong dan dikuasai oleh orang lain dengan faham yang bertolak belakang dengan ajaran Aswaja An Nahdliyyah. Kondisi ini (masjid berubah amaliah) banyak terjadi di kompleks perumahan-perumahan,” ujar KH Muhibbin sambil berharap nahdliyyin benar-benar mengantisipasi agar memastikan amaliah ubudiah dan i'tiqodiyah Aswaja Annahdliyyah tetap dipedomani.



Sumber: Suara Pembaruan