Polres Kaur Serahkan Siamang ke BKSDA Bengkulu

Polres Kaur Serahkan Siamang ke BKSDA Bengkulu
Ilustrasi siamang ( Foto: Istimewa )
Usmin / JEM Senin, 17 Juni 2019 | 16:11 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Kepolisian Resor (Polres) Kaur, Bengkulu menyerahkan seekor satwa dilindungi jenis Siamang ke pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Satwa dilindungi tersebut diamankan Polres Kaur dari salah seorang warga Desa Pagar Dewa, Kecamatan Kelam Tengah, pekan lalu.

"Kita menyerahkan seekor satwa langka jenis Siamang yang diamankan dari warga Kaur ke BKSDA Bengkulu, agar hewan tetap lestari," kata Kasat Reskrim, Polres Kaur, Iptu Welli Wanto Malau, di Bengkulu, Minggu (16/6/2019).

Ia mengatakan, hewan Siamang yang diserahkan pihaknya ke BKSDA Bengkulu, merupakan hasil sitaan dari seorang warga Desa Pagar Dewa, Kecamatan Kelam Tengah, Kabupaten Kaur, SK. Selanjutnya satwa dilindungi ini diserakan ke BKSDA Bengkulu.

Pemilik Siamang ini, sudah berusia 70 tahun dan mereka hanya diberikan teguran karena yang bersangkutan tidak mengetahui kalau memiliki satwa dilindingi melanggar hukum.

"Warga pemilik Siamang kita tegur saja dan tidak diproses
secara hukum karena tidak mengetahui kalau memelihara satwa dilindungi melanggar hukum. Siamang yang kita amankan dari SK langsung diserahkan ke BKSDA Bengkulu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Resort Wayhawang Kaur, A Simanjuntak menjelaskan, sebelum satwa langka tersebut dilepas liarkan kembali ke habitatnya, terlebih dahulu akan dilakukan konservasi di karantina kantor Seksi Tais Seluma, Bengkulu.

Hal ini dilakukan karena satwa langka ini sudah cukup lama berada ditangan warga Kaur, sehingga sebelum dilepaskan liarkan ke hutan perlu dilakukan karentina, dan bila sudah dianggap bisa beradaptasi dengan lingkungan bebas baru dilepas kehutan.

Diharapkan warga tidak lagi menangkap satwa langka jenis Siamang ini bila melihatnya di hutan bebas. Bagi warga yang sengaja atau tidak menangkap dan memiliki satwa dilindungi tanpa izin, serta memperjualbelikanya diancaman hukuman berat
selama 5 tahun penjara dan denda hingga Rp 100 juta.

"Jadi, masyarakat jangan main-main menangkap satwa langka, termasuk Siamang tanpa izin akan dihukum 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Sikap tegas ini dilakukan agar keberadaan satwa dilindungi ini tetap lestari di Bengkulu di masa mendatang," ujar Simanjuntak.



Sumber: Suara Pembaruan