Malioboro Bebas Kendaraan, Beri Ruang Publik yang Lebih Harmonis

Malioboro Bebas Kendaraan, Beri Ruang Publik yang Lebih Harmonis
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang meninjau uji coba semi pedestrian Malioboro, pada Selasa (18/6) petang. (Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani)
Fuska Sani Evani / LES Rabu, 19 Juni 2019 | 11:01 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Pemda DI Yogyakarta bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, resmi menerapkan Malioboro sebagai kawasan pedestrian, meski baru dalam 35 hari sekali atau setiap Selasa Wage. Dinas Perhubungan (Dishub) DIY pun telah melakukan uji coba rekayasa arus lalu lintas di kawasan jalur pedestrian Kawasan Malioboro.

Kepala Dishub DIY Sigit Sapto Rahardjo mengatakan, guna menyesuaikan adanya jalur pedestrian di Kawasan Malioboro ada beberapa tahapan pengaturan lalu lintas yang akan dilakukan. Tahapan yang petama adalah tahapan rekayasa lalu lintas berupa pengalihan dan perubahan arus lalu lintas di sekitar kawasan Malioboro.

Sehubungan dengan rampungnya revitalisasi jalur pedestrian di Kawasan Malioboro pada akhir Desember 2018, Sigit menambahkan pihaknya juga tengah mengkaji mekanisme lalu lintasnya mengingat kendaraan bermotor dan kendaraan tradisional hanya bisa melalui jalan yang di tengah selebar 6 meter.

Terpisah peneliti Pusat Studi dan Transportasi Logistik (Pustral) UGM, Dr Arif Wismadi menyatakan, peningkatan daya tarik kawasan Malioboro bertujuan untuk meningkatkan jumlah pengunjung yang datang, agar berinteraksi dan menghasilkan transaksi serta menumbuhkan manfaat sosial, ekonomi dan budaya. Namun dengan volume pengunjung yang meningkat, beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengurai dan mengurangi kemacetan diantaranya adalah menerapkan rekayasa lalulintas yang sifatnya asimetrik, dan dinamisasi ukuran unit pergerakan.

Uji coba kawasan Malioboro menjadi semi pendestrian membuat ruang transaksi dan interaksi meeting place lebih besar. Selain itu, ketika Malioboro bebas dari kendaraan bermotor, hal tersebut menandakan adanya suatu evolusi Jogja semakin istimewa dengan memberikan ruang publik yang lebih harmonis.

Penerapan Semi Pedestrian yang telah dimulai tersebut memang mengundang antusias warga. Sejak pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB Selasa (18/6), Malioboro tertutup bagi kendaraan bermotor. Namun berdasar pantauan, baru pukul 19.20 WIB, sudah tampak beberapa kendaraan mulai melintas.

Seni Budaya
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang meninjau uji coba semi pedestrian Malioboro, pada petang hari mengatakan, dengan liburnya pedagang kaki lima (PKL) bersamaan dengan waktu pedestrian, harus dicarikan alternatif hiburan untuk pengunjung Malioboro selain aktivitas seni budaya.

Sri Sultan juga mengusulkan agar Malioboro bisa menjadi ruang instalasi seni rupa. Sultan mengungkapkan, uji coba tersebut pun tidak akan mengganggu perekonomian masyarakat. misalnya bagi hotel yang ada lebih dulu di kawasan Malioboro.

Namun yang paling penting menurut Sultan, masyarakat juga harus meningkatkan kesadaran pemahaman dalam menjaga kebersihan, termasuk membuang sampah.

Sultan juga sempat memungut sampah yang ternyata masih ada di ruas jalanan. "Kesadaran untuk membuang sampah belum terstandarisasi. Padahal di dekatnya ada tempat sampah, namun malah buang di besi-besi. Sehingga mempersulit pekerja," ujar Sultan.

Sultan mengungkapkan kesengajaaannya mengambil sampah, dengan harapan masyarakat mau mencontoh



Sumber: Suara Pembaruan