Ryamizard: 23,4 Persen Mahasiswa Setuju Jihad Dirikan Khilafah

Ryamizard: 23,4 Persen Mahasiswa Setuju Jihad Dirikan Khilafah
Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Robertus Wardi / YS Kamis, 20 Juni 2019 | 00:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengungkapkan sebanyak 23,3 persen mahasiswa di seluruh Tanah Air setuju dengan wacana pendirian negara Islam atau khilafah. Kemudian 23,3 persen siswa SMA setuju dengan hal yang sama.

"Nah, sekarang sudah mulai Pancasila luntur. Sekarang enggak ada masalah. Tapi‎ 20-30 tahun lagi, kalau kita biarkan, itu pemimpin bangsa ini mungkin yang kemarin 30 tahun lalu masih mahasiswa, ke depan dia akan jadi Presiden, akan jadi Panglima TNI, atau Kapolri, dia menganut khilafah, selesai bangsa ini. Karena Pancasila tak ada lagi.‎ Selesai Pancasila ini akan terjadi pertumpahan darah. Pasti. Seperti di Timur Tengah. Ini yang tidak kita inginkan dan sangat merisaukan kita," kata Ryamizard dalam acara halal bihalal bersama seluruh elemen serta purnawirawan TNI di Gelanggang Olahraga Ahmad Yani, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (19/6/2019).

Ryamizard hadir pada acara tersebut mewakili Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berhalangan hadir. Sebagai tuan rumah adalah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Tampak hadir pada acara itu, mantan Wakil Presiden ke-6 Indonesia Jenderal (purn) Try Sutrisno, mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo, mantan Menko Polhukam Jenderal (purn) Djoko Santoso, dan mantan Komandan Kopassus Mayor Jenderal (purn) Muchdi Purwoprandjono.

Ryamizard mengemukakan dalam pengamatan Kementerian Pertahanan (Kemhan), ada 18,1 persen pegawai tidak setuju dengan ideologi Pancasila. Kemudian 19,4 Pengawai Negeri Sipil (PNS) menyatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila. Data lain adalah 9,1 persen pegawai BUMN yang menyatakan tidak setuju dengan ideologi negara Pancasila dan kurang lebih tiga persen, ada TNI terpengaruh dan tak setuju Pancasila.

"Ini memprihatinkan sekali. Kenapa saya sampaikan di sini, mumpung kita berkumpul di sini, ada sesepuh. Ada yang lebih muda. Bersama-sama mengatasi ini, agar Indonesia ke depan bisa tetap seperti sekarang," ujar mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini.

Pada kesempatan itu, dia mengingatkan dan menekankan akan hakekat jati diri prajurit TNI yaitu sebagai tentara pejuang rakyat, tentara nasional, dan tentara profesional. TNI sebagai organisasi yang solid sarat dengan semangat perjuangan, pengabdian dan pengorbanan yang luar biasa tanpa pamrih yang dilandasi loyalitas sebagai roh di setiap prajurit TNI.

Menurutnya, TNI ‎berasal dari rakyat, lahir dari rakyat, dan bersama-sama berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Oleh karena itu harus senantiasa menjadi organisasi yang dicintai rakyat. Etos ini yang kemudian hari yang dilibatkan dalam nilai-nilai sapta marga, sumpah prajurit, yang dijiwai oleh Pancasila dan UUD 1945.

"Tugas pokok TNI yang harus selalu berada dibenak para prajurit TNI dan purnawirawan sangat jelas yaitu menjaga keselamatan bangsa, menjaga keutuhan negara, dan menjaga kedaulatan negara. TNI memiliki tugas menjaga dan mengamankan ideologi negara, Pancasila, dan konstitusi negara," tutur Ryamizard.



Sumber: Suara Pembaruan