Gubernur DIY Tolak Tol Menuju Bandara Baru

Gubernur DIY Tolak Tol Menuju Bandara Baru
Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. Penumpang memasuki area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin, 6 Mei 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Andreas Fitri Atmoko )
Fuska Sani Evani / FMB Kamis, 20 Juni 2019 | 10:14 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Akses jalan menuju Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA di Kulonprogo, sudah terakomodasi oleh Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS), juga jalur outer ring road yang segera dibangun. Karenanya, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X, menolak pembangunan jalan tol.

Sultan beralasan, jika Bandara YIA terintegrasi langsung dengan jalur tol, bisa jadi pengguna jasa penerbangan hanya akan lewat begitu saja, tanpa singgah di Yogyakarta maupun Kulonprogo dan kontraproduktif dengan target pertumbuhan ekonomi.

Kepada media di Kulonprogo, Rabu (19/6/2019), Sultan menegaskan aksesibilitas dan konektivitas ke bandara baru, hanya akan ditunjang dengan jalur umum biasa non-tol.

Pembangunan bandara baru, bertujuan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat. Jalan tol akan membatasi keterlibatan ekonomi masyarakat.

"Warga akan dapat apa?” tegas Sultan.

Apalagi, tambah Sultan, ada beberapa proyek infrastruktur jalan di Kulonprogo yang disokong oleh Pemerintah DIY, seperti jalur Bedah Menoreh yang menjadi penghubung YIA dengan Borobudur.

Berkaitan dengan proyek tol yang melewati wilayah DIY, Sri Sultan tidak langsung menyetujuinya, termasuk tol Bawen - Yogyakarta dan trase Tol Solo-Yogyakarta atau Yogyakarta-Solo.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan untuk pembangunan tol ini masih perlu mencari sistem yang bisa mewadahi berbagai aspek.

Menurutnya, membangun rest area atau membuat simpul yang mengarah ke bermacam destinasi di DIY dapat dilakukan. "Bisa kita ciptakan rest area atau titik simpul yang bisa turun ke destinasi UMKM atau kuliner," ujarnya.

Gatot memberi contoh, misal tol melewati Candi Prambanan, desain tol harus diperhitungkan agar dapat turun menuju destinasi wisata tersebut.



Sumber: Suara Pembaruan