Kivlan Zen Ajukan Praperadilan Status Tersangka Kepemilikan Senjata

Kivlan Zen Ajukan Praperadilan Status Tersangka Kepemilikan Senjata
Tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen berjalan dengan kawalan petugas kepolisian seusai menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Bayu Marhaenjati / FMB Kamis, 20 Juni 2019 | 13:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kuasa hukum Kivlan Zen rencananya bakal mengajukan permohonan praperadilan terkait status kliennya sebagai tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Ya kita mengajukan praperadilan sebagai tersangka kepemilikan senjata api," ujar Muhammad Yuntri selaku kuasa hukum Kivlan, Kamis (20/6/2019).

Sebelumnya, Kivlan telah menjalani pemeriksaan konfrontasi dengan tersangka Habil Marati dan Helmi Kurniawan alias Iwan soal aliran dana pembelian senjata api ilegal, kemarin.

"Ada 17 pertanyaan. Intinya kaitan aliran dana saja. Aliran dana apakah benar itu terkait dengan rencana pembelian senjata api dan rencana pembunuhan. Itu sudah dibantah semua sama pak Kivlan," ungkap Yuntri.

Seusai menjalani pemeriksaan, Kivlan Zen sempat mengatakan dirinya telah difitnah. Terkait hal itu, Yuntri menjelaskan, bahwa uang senilai SGD 15.000 atau setara Rp 150 juta merupakan uang pribadi Kivlan bukan dari Habil Marati, dan tidak untuk membeli senjata api ilegal.

"Iya bahwa beliau itu mengeluarkan dana dari kantong beliau sendiri. Dari uang pribadi, bukan dari Pak Habil. Tujuannya adalah untuk demo di Monas, karena Iwan ini dari dulu bilang punya massa. Jadi banyak rekayasa cerita. Makanya itu pak Kivlan bilang kamu fitnah. Yang dinyatakan sebenarnya tidak begitu," katanya.

Yuntri menyebutkan, Kivlan memang menerima sejumlah dana senilai SGD 4.000, tapi itu untuk keperluan demo.

"Itu memang dari Pak Habil. Itu untuk keperluan demo dan sosialisasi di acara Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober 2018. Iya (SGD 4.000 itu diserahkan ke Iwan). Malah ditambah lagi uangnya Pak Kivlan total menjadi Rp 50 juta. Kalau yang SGD 15.000 itu, setara Rp 150 juta murni uangnya Pak Kivlan," jelas Yuntri.

Menyoal dari mana Kivlan memiliki uang SGD 15.000 itu, Yuntri menuturkan, hasil kerja sebagai konsultan bisnis dan uang jasa dari pemerintah ketika berhasil membebaskan sandra Kelompok Abu Sayyaf, di Filiphina, tahun 2016 silam.

"Jadi sama sekali tidak ada aliran dana yang berasal dari Pak Habil Marati itu yang kemudian ditujukan untuk membeli senjata, tidak ada. Ini rekayasa cerita yang diada-adakan. Pembelian senjata itu sama sekali Pak Kivlan tak pernah tahu," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com