Polres Lumajang Ungkap Kasus Perdagangan Manusia Dibalik Pembunuhan Hola

Polres Lumajang Ungkap Kasus Perdagangan Manusia Dibalik Pembunuhan Hola
Ilustrasi perdagangan manusia ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Gardi Gazarin / JEM Kamis, 20 Juni 2019 | 15:06 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Kasus pembunuhan dengan korban salah sasaran pada 11 Juni 2019 di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memasuki babak baru dalam penyelidikan.

Hori (43) yang merupakan pelaku utama atas terbunuhnya Hola (34), ternyata di masa lalu pernah menjual anak lelakinya kepada orang lain pada saat anak itu masih berumur 10 bulan. Hal ini sesuai pengakuan istirnya Lasmi, yang menyebutkan kalau Hori telah menjual anak mereka kepada seorang pria bernama Sahar.

Kasus yang juga mengarah ke human trafficking (perdagangan manusia) ini masih terus didalami oleh Tim Cobra Polres Lumajang. Selain itu, juga ternyata kasus ini terangkai dengan pemalsuan surat atas identitas anak. Karena anak tersangka Hori yang dibawa oleh Sahar, ternyata dibuatkan surat lahir yang seakan-akan dilahirkan oleh Sukaesih, istri Sahar.

"Pemalsuan surat ini sudah diakui juga oleh Kepala Desa Sombo. Tapi pihak kepolisian belum menetapkan tersangka dalam kasus ini," kata Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban kepada Suara Pembaruan, Kamis (20/6/2019), setelah mengonfrontasi kasus ini dengan mendatangkan Lasmi (istri Hori), Samad (kepala desa), serta Sahar beserta istri yang ditengarai sebagai pihak yang membeli anak Hori.

Menurut Kapolres Lumajang, berdasarkan pengakuan Sahar, bahwa Hori dulu memang memiliki hutang sebesar Rp 500.000 kepadanya pada saat sama-sama merantau di Riau.

Namun, lanjut Kapolres, pernyataan tersebut dibantah oleh Hori. “Pelaku mengatakan ia menitipkan anaknya agar diasuh serta di sekolahkan ke Jawa, mengingat Pak Sahar dan istrinya akan pulang ke Pulau Jawa,” jelas Kapolres.

Lasmi, yang merupakan istri Hori pun juga membenarkan pernyataan Sahar. Ia mengaku mengetahui saat Hori memberikan anak tersebut agar hutang suaminya dapat dihapuskan. Selain itu, Hori juga tak berdiskusi terlebih dahulu dengan dirinya, jika akan memberikan anaknya agar hutangnya terlunasi.

Demikian juga saat Kapolres menanyakan kepada Samad selaku Kepala Desa Sombo mengatakan bahwa anak yang dibawa oleh keluarga Sahar bukanlah darah daging mereka. Namun demikian, kepala desa beralasan ia membantu menguruskan surat lahir sebagai dasar pembuatan kartu keluarga semata mata untuk masa depan si anak tersebut.

“Saya tahu perbuatan saya memang melanggar hukum atas pemalsuan surat Pak. Namun bagaimana lagi, rasa kemanusiaan saya tergugah. Masa depan anak tersebut akan semakin suram jika tak memiliki surat. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk berani membuatkan surat lahir dan memasukkan anak tersebut ke dalam kartu keluarga Pak Sahar” ungkap Samad sebagaimana dijelaskan Kapolres Lumajang.

Dalam pernyataannya seusai kegiatan tersebut, Kapolres Lumajang mengambil keputusan yang sangat bijak. “Kasus tindak pidana pemalsuan surat dengan mengubah identitas anak sebenarnya sudah masuk kategori tindak pidana. Namun tidak serta merta saya harus harus membawa semua ke ranah hukum, karena melihat permasalahan sosial yang ada. mereka para saksi ini merupakan berlatar belakang pendidikan yang rendah dan wilayah mereka lebih terpencil dibanding wilayah lain, sehingga persoalan ini merupakaan masalah sosial yang harus diselesaikan bersama,” ujarnya.

Kalau melihat dari tujuan hukum, lanjut Kapolres, ada tiga hal harus diperhatikan yaitu harus adanya keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan hukum.

“Menjadi pertanyaan kita, apakah dengan menghukum semuanya mereka memberikan rasa keadilan kepada masyarakat?, apakah akan lebih bermafaat atu tidak? Bagaimana pendidikan dan masa depan anak mereka ke depannya apabila pemidanaan diterapkan kepada mereka semuanya?. Hal ini yang perlu kami pertimbangkan untuk menetapkan tersangka. Jangan sampai langkah-langkah hukum yang kami lakukan malah kontradiktif dengan tujuan hukum itu sendiri,” kata Kapolres Lumajang Arsal.

Saat ini, lanjut Arsal, pihaknya mengambil sikap dengan menyelesaikan permasalahan ini terlebih dahulu secara musyawarah, terkait hubungan antara Lasmi, Pak Kahar dan bu sukaesih mengenai anak mereka. Kepala desa saya minta agar duduk bersama, jalan keluar apa yang harus dilakukan. apalagi mereka semuanya satu desa.

Di satu sisi kasus human trafficking ini tetap di dalami jika cukup bukti akan dilakukan penyidikannya dari keterangan Lasmi. Mengingat kasus ini mencuat, belum pernah ada laporan human trafficking oleh Lasmi ke Polres Lumajang.

Temuan kasus penjualan anak yg dilakukan oleh Hori. Dari hasil introgasi diketahui juga kalau Hori dan lasmi tidak pernah menengok atau berupaya menemui anaknya sejak diserahkan sampai berumur 9 tahun.



Sumber: Suara Pembaruan