Restorasi Pesisir, Kawasan Mangrove di Semarang Mulai Ditata

Restorasi Pesisir, Kawasan Mangrove di Semarang Mulai Ditata
Penandatanganan kerja sama Djarum Foundation dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk restorasi pesisir Semarang dan Jakarta di Semarang, Kamis (20/6). ( Foto: Ist )
Heriyanto / HS Kamis, 20 Juni 2019 | 19:00 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Sekitar 1,2 juta hektare (ha) hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak parah atau kritis. Kondisi tersebut juga terjadi di pesisir Provinsi Jawa Tengah, termasuk Teluk Semarang. Untuk itu, perlu upaya pencegahan dan menata kembali kawasan mangrove sebagai bagian dari upaya restorasi pesisir secara menyeluruh.

Demikian salah satu hal yang mengemuka di sela-sela penandatanganan kerja sama Djarum Foundation dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk restorasi pesisir Semarang dan Jakarta di Semarang, Kamis (20/6/2019).
Hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah Sri Puryono, Ketua YKAN Rizal Algamar, Chief Operating Officer (COO) PT Djarum Victor Hartono, dan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ahmad Munawir.

YKAN yang merupakan afiliasi dari The Nature Conservancy di Indonesia yang memberikan perhatian pada konservasi sumber daya alam, termasuk melalui program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA).

Sri Puryono mengatakan dampak dari kerusakan mangrove di Jawa Tengah juga cukup besar seperti abrasi, bencana, dan degradasi lingkungan. Salah satu inisiatif untuk mencegah dan membenahi kawasan mangrove sudah ada melalui Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah Nomor 13 Tahun 2018 Tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Tahun 2018-2038.

Puryono yang pernah mengkaji kawasan mangrove ini berharap perbaikan ekosistem mangrove dalam memulihkan potensi dan kekayaan pesisir pantai melibatkan banyak pihak. Dalam waktu dekat, pihaknya juga mendorong Kelompok Kerja Mangrove Jawa Tengah kembali dioptimalkan. “Perlu pembenahan secara terintegrasi dengan melibatkan semua pihak. Kami sangat berharap agar kerja sama YKAN dan pihak Djarum bisa menata secara menyeluruh,” katanya.

Rizal Algamar mengatakan, dengan difasilitasi pemerintah, YKAN mengajak keterlibatan pihak swasta untuk menekan tingkat kerusakan mangrove. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk merestorasi pesisir Jawa Tengah yang sering dilanda rob, banjir dan dampak degradasi lainnya.

Selain PT Djarum, YKAN juga sudah mengajak sudah bekerja sama dengan Asia Pulp & Paper (APP/Sinar Mas), Indofood Sukses Makmur, dan Chevron Pacific Indonesia.

Direktur MERA M Imran Amin menambakan pemulihan mangrove harus dilakukan secara komprehensif dengan kajian ilmiah dan mempertimbangkan daya dukung kawasan. Jadi, restorasi pesisir tidak hanya sekadar menanam mangrove tetapi memerlukan desain serta tata kelola yang baik dan benar.

“Kondisi mangrove sangat kritis, tetapi jangan direspons hanya dengan menanam lalu ditinggal. Biasanya seremoni penanaman oleh kelompok, perusahaan, maupun pribadi tidak diikuti dengan pemeliharaan atau rencana jangka panjang,” tegasnya.

Victor Hartono mengatakan pihaknya mendorong pemulihan mangrove untuk menjaga ekosistem dan mengurangi emisi karbon. Kesadaran pemulihan mangrove sudah dimulai sejak tahun 1999 di Pantai Mangunharjo, Mangkang Semarang. Upaya penanaman itu terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat setempat.

“Kami mempunyai perhatian pada konservasi pesisir dan mencegah dampak perubahan iklim secara global. Salah satunya melalui pemulihan kawasan mangrove yang terus meluas setiap tahun,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya juga merespons kemitraan bersama YKAN melalui program MERA sehingga pemulihan mangrove semakin komprehensif dan ditata dengan baik.



Sumber: Suara Pembaruan