Polarisasi Akibat Fanatisme Politik Ancam Persatuan Bangsa

Polarisasi Akibat Fanatisme Politik Ancam Persatuan Bangsa
Ilustrasi media sosial. ( Foto: Istimewa )
/ BW Kamis, 20 Juni 2019 | 16:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polarisasi akibat fanatisme politik, agama, dan etnis berpotensi mengancam persatuan bangsa jika tak segera dihentikan. Hal itu dikatakan Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho.

Apalagi, lanjut Septiaji, polarisasi itu terus dipupuk dengan maraknya penyebaran hoax, ujaran kebencian, adu domba dan fitnah melalui media sosial (medsos).

"Polarisasi akan semakin melebar di tengah kemampuannya literasi masyarakat yang belum mencukupi," kata Septiaji di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Septiaji menilai, peradaban digital telah mengubah pola masyarakat dalam berinteraksi dan mengonsumsi informasi. Peradaban digital menjadikan interaksi masyarakat makin homogen, demikian pula dalam hal mengonsumsi informasi.

Persoalannya, tidak semua informasi yang diterima benar adanya, sementara kemampuan menyaring sekaligus memverifikasi informasi pun rendah, bahkan pendidikan tinggi tak menjamin terbebas dari hoax.

Untuk itu, kata Septiaji, pertemuan fisik, silaturahmi harus digencarkan. Pertemuan para tokoh masyarakat, tokoh agama, elite politik, tokoh pemuda, juga pertemuan antarwarga menjadi sesuatu yang penting dilakukan.

Masyarakat juga harus memperbanyak aktivitas dunia nyata dengan peserta heterogen sehingga mampu mengurangi rasa curiga kepada orang lain yang dipersepsikan berbeda aspirasi.

"Masyarakat perlu memperbaiki keguyuban, memperbanyak interaksi dunia nyata, untuk menghindari ilusi kelompokku benar, kelompokmu salah yang mudah terbangun dalam grup digital yang semakin homogen," ujarnya.

Secara bersamaan, gerakan literasi harus terus digalakkan guna meningkatkan ketahanan informasi masyarakat, relawan antihoax harus diperbanyak.

"Sangat penting untuk merangkul sebanyak mungkin tokoh untuk bersama menjadi agen melawan hoax dan kedustaan," ujar Septiaji.



Sumber: ANTARA