Malioboro sebagai Kawasan Semi Pedestrian Masih Banyak Kekurangan

Malioboro sebagai Kawasan Semi Pedestrian Masih Banyak Kekurangan
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang meninjau uji coba semi pedestrian Malioboro, pada Selasa (18/6) petang. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Jumat, 21 Juni 2019 | 14:52 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kebijakan menetapkan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian, belum sepenuhnya mengakomodasi seluruh aktivitas masyarakat. Karena itu, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melakukan sejumlah kajian dan evaluasi untuk terus meningkatkan performa Malioboro.

Sekretaris Daerah DIY Gatot Saptadi mengatakan, hal yang paling penting adalah pemeliharaan infrastruktur dan juga penjagaan aset yang sudah dibangun.

Dikatakan Gatot, juga muncul gagasan perlunya kelembagaan juga menjadi pembelajaran. “Persoalan human error, terutama kesadaran masyarakat akan kebersihan dengan banyaknya sampah di sepanjang Malioboro maupun terkait berbagai fasilitas yang sudah mulai rusak, perlu disikapi serius,” katanya, Kamis (20/6).

Pemda DIY, katanya, bukan tidak percaya pada pengelolaan Malioboro saat ini, namun masih terdapat masalah yang belum terselesaikan. Untuk pemeliharaan ini, kata dia, juga bukan sekadar terkait dengan kelembagaan saja. Tetapi, peran semua pihak yang terlibat dalam Malioboro menjadi penting.

“Pemeliharaan infrastruktur pun bisa melibatkan masyarakat seperti pengusaha toko, PKL, dan masyarakat umum,” katanya.

Gatot mengungkapkan, pedestrian harus mampu menciptakan kawasan yang humanis. Artinya, Malioboro mampu menghadirkan kembali roh hubungan sosiokultural kemasyarakatan. Jangan hanya pada dimensi ekonomi, apapun itu baik dari seluruh pemangku kepentingan yang menjadi kan kawasan Malioboro untuk menyambut rezeki.

“Oleh karena itu maka penataan yang sudah dilakukan dan selalu dikaitkan dengan sumbu imajiner dengan sumbu filosofi terutama sumbu filosofis itu. Ke depannya, Malioboro diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY) Sadana Mulyono menuturkan, situasi Malioboro di siang hari nyaris kosong. Sementara ruas-ruas jalan di sekitar kawasan Malioboro, seperti Jalan Mataram dan Jalan Abubakar Ali mengalami kemacetan.

“Uji coba pada Selasa Wage lalu, hasilnya kurang bisa mencerminkan kondisi Malioboro sebenarnya, sehingga hasilnya menjadi kurang optimal,” kata Sadana Muloyono.

Toko-toko mengalami penurunan omzet hingga 50%. Parkir di Malioboro Mall menurun 60%, omset tenant dan oulet di mal secara rata- hingga 40%.

Menurut Sadana, penurunan omzet ini harus menjadi hal yang dicermati dengan serius. Penurunan omzet kalau berkelanjutan dan terus menerus, akan menyebabkan toko tidak bisa bertahan dan berdampak pada masalah tenaga kerja (karyawan).

Pihak Hotel Mutiara juga menyampaikan banyak keluhan sehubungan dengan uji coba Malioboro bebas kendaraan bermotor.
Ada dua grup rombongan yang membatalkan kedatangannya setelah mengetahui rencana uji coba semi pedestrian itu. Kemudian terjadi juga pambatalan paket meeting 200 pax. Walk in guest/customer tidak ada.

Tamu yang tetap mau menginap di Hotel Mutiara, berhenti di Jalan KH Ahmad Dahlan. Kemudian dijemput oleh mobil shuttle dari pihak Hotel Mutiara. Namun begitu, mobil tersebut tetap mengalami kesulitan untuk merapat ke Hotel Mutiara, karena harus "berdebat" dulu dengan petugas Dishub yang berjaga di simpang tiga Malioboro.



Sumber: Suara Pembaruan