Revolusi Industri 4.0, Indonesia Harus Solid

Revolusi Industri 4.0, Indonesia Harus Solid
Diskusi Forum Kebangsaan Universitas Indonesia dengan tema "NKRI sebagai Basis Kesatuan Ekonomi dalam Menghadapi Ketidakpastian Global" di Balai Sidang UI, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (24/6/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / BW Senin, 24 Juni 2019 | 23:39 WIB

Depok, Beritasatu.com - Persaingan global pada era digital atau pada era revolusi industri 4.0 menghasilkan kesimpulan.

Kesimpulan itu, adalah bangsa yang bisa bertahan hanyalah bangsa yang solid secara internal (dalam negeri), dan yang mampu beradaptasi secara cepat terhadap perkembangan dunia global saat ini.

Lebih khusus lagi, titik fokus adalah pada pemetaan pola pikir dan pola sikap sumber daya manusia Indonesia untuk sanggup bersaing pada era revolusi industri 4.0.

Pakar psikologi politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk menuturkan, secara keseluruhan untuk maju, diperlukan modal ekonomi (economic capital), modal institusional (institutional capital), modal sosial (social capital), modal budaya (cultural capital), dan modal psikologis (psychological capital).

"Perlu desain yang komprehensif untuk menjadikan manusia Indonesia yang mempunyai etos integritas, kerja keras, dan semangat nasionalisme untuk menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0. Usaha-usaha untuk mempercepat basis penguasaan keterampilan-keterampilan (skills) seperti system skills, cognitive abilites, complex problem solving, process skills, dan social skills perlu mendapat prioritas," ujar Hamdi Muluk dalam Forum Kebangsaan Universitas Indonesia dengan tema "NKRI sebagai Basis Kesatuan Ekonomi dalam Menghadapi Ketidakpastian Global" di Balai Sidang UI, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (24/6/2019).

Dikatakan Hamdi, diperlukan revolusi mental sebagaimana yang selama ini dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Sehingga dapat mengubah potret sumber daya manusia Indonesia yang selama ini identik dengan sikap tidak suka bekerja keras, feodal, lemah, munafik, suka menggerutu, dan tukang pamer.

"Dalam bidang perekonomian, kita tertinggal jauh dari negara lain karena kita kehilangan etos kerja keras, daya juang, kreativitas, kemandirian, semangat inovatif," tutur Hamdi Muluk.

Kepala Kajian Makro LPEM FEB UI Febrio Kacaribu mengungkapkan, dalam 20 tahun terakhir, sejak krisis Asia 1997-1998, di tengah perekonomian dunia yang sangat tidak stabil dan pertumbuhan ekonomi global yang terus melambat, perekonomian Indonesia tetap bisa tumbuh, secara rata-rata, 5,2% per tahun.

Dalam periode yang sama, rata-rata pertumbuhan perekonomian global hanya 2,9% per tahun. Di antara 16 perekonomian terbesar, dalam 20 tahun terakhir, hanya ada tiga negara yang perekonomiannya selalu tumbuh di atas pertumbuhan gross domestic product (GDP) dunia, yaitu Tiongkok, India, dan Indonesia.

"Perekonomian Indonesia dalam 10 tahun ke depan kami proyeksikan akan terus tumbuh dengan tingkat pertumbuhan 5,3-5,6% per tahun. Ini pun akan jauh di atas rata-rata potensi pertumbuhan dunia yang diproyeksikan oleh IMF tumbuh sekitar 3,6% per tahun," tutur Febrio.

Dia menegaskan, rasio utang Indonesia masih aman. Utang yang dimiliki Indonesia bukan sembarang utang karena utang tersebut, lanjut Febrio digunakan untuk membeli peralatan, sehingga menjadi produktif.

"Utang kita bukan untuk berhura-hura, tetapi kita berproduksi. Jangan termakan hoax soal utang. Utang Indonesia dalam batas aman dan tidak mengkhawatirkan," tegas Febrio.

Sepuluh tahun lagi, lanjut dia, peluangnya sangat besar bagi perekonomian Indonesia untuk naik ke posisi nomor 10 ekonomi terbesar di dunia. Perekonomian yang makin besar ini akan dibarengi peluang yang semakin besar bagi bangsa Indonesia untuk tampil dan berperan di kancah politik global.

Periode 2020-2035 jumlah penduduk usia kerja, yaitu pelaku ekonomi, akan lebih dari dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tidak bekerja. Kurun waktu ini disebut periode bonus demografi. Angkatan kerja akan semakin didominasi oleh milenial dan Gen Z.

Kelompok ini secara umum lebih kreatif dan produktif dibandingkan generasi pendahulunya. Mereka cenderung lebih menghargai kinerja dan kurang tertarik dengan retorika.

Namun, Indonesia juga menghadapi tantangan, yaitu tantangan pertama adalah kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja kita cenderung stagnan, sektor manufaktur yang paling parah. Saat ini, lebih dari setengah tenaga kerja kita hanya lulus sekolah dasar. Di sisi lain, kurikulum pendidikan tingkat lanjutan maupun tingkat setelah SMA harus segera direvisi agar sesuai dengan perkembangan kebutuhan industri 4.0," papar Febrio.

Tantangan utama lainnya adalah masih belum optimalnya pencapaian pada indeks kemudahan berusaha. Hal ini akan bisa dibenahi apabila reformasi birokrasi pemerintah dilakukan dengan lebih cepat, substantif, dan berorientasi hasil/kinerja.



Sumber: Suara Pembaruan