Sebulan Berlalu, Kerusuhan 21-22 Mei Masih Penyelidikan

Sebulan Berlalu, Kerusuhan 21-22 Mei Masih Penyelidikan
Aksi 22 Mei 2019. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / FMB Selasa, 25 Juni 2019 | 15:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan aksi rusuh yang diwarnai pembunuhan sembilan orang dalam rentetan rusuh 21-22 Mei lalu masih dalam tahap penyelidikan.

“Ini sedang dalam investigasi, belum sampai ke sana (dugaan korban tewas ditembak di suatu tempat lalu dipindah ke TKP rusuh). Yang saya sampaikan bahwa (rusuh itu) direncanakan. Kita tahu aksi tanggal 21 itu ada dua segmen. Yang pertama damai, salat, tarawih, dan buka bersama dengan anggota,” kata Tito di Mabes Polri Selasa (25/6/2019).

Sampai jam sembilan malam pun damai tetapi pukul 22.30 ada kelompok lain yang sudah membawa peralatan rusuh seperti bom molotov yang berati sudah dipersiapkan beberapa waktu sebelumnya. Ada juga panah beracun yang sudah diperiksa Labfor, parang, dan ambulan yang isinya barang berbahaya.

“Ini pasti dipersiapkan itu yang saya sebut bahwa kerusuhan atau kelompok perusuh itu saya berkeyakinan ada perencanaan untuk membuat rusuh. Saya tidak menyatakan (yang tewas itu) korban. Itu dalam investigasi kita berdasarkan peralatannya, kan gampang saja itu,” yakinnya.

Intinya kalau ributnya spontan maka paling yang digunakan adalah alat yang seadanya di situ bukan alat yang telah dipersiapkan. Bom molotov bisa membunuh orang. Makanya peristiwa rusuh ini pasti direncanakan dan terorganisir meski Tito tak menyebut siapa yang jadi aktor intelektualnya.

Sejauh ini Polri memang baru merilis beberapa hal. Misalnya jenis proyektil yang menewaskan dua dari sembilan korban tewas itu.

Hasil uji labfor menyebutkan dari tiga proyektil yang didapat dari tubuh korban, yang dilabeli polisi sebagai pelaku perusuh itu —meski belum ada pembuktian secara hukum—adalah kaliber 5,56 mm dan kaliber 9 mm. Untuk kaliber 9 mm itu tingkat kerusakan proyektil cukup parah, pecah. Sehingga alur senjata dalam proyektil itu sulit ditemukan.

Dedi mengakui kaliber itu bisa digunakan senjata standar Polri atau TNI namun juga bisa digunakan senjata rakitan. Contohnya senjata dari konflik yang ada di Papua, di Maluku, dan termasuk tersangka terorisme jaringan MIT. Yang jelas pasukan pengamanan secara langsung pada tanggal 21 dan 22 Mei, baik Polri maupun TNI, tidak dibekali senjata api dan peluru tajam.

Peluru tajam itu di antaranya diketemukan di jasad kaku dua korban bernama Abdul Azis dan Harun Al Rasyd. Satu korban bernama Zulkifli juga tertembak peluru tajam di pahanya. Dia bisa diselamatkan dan saat ini sedang dirawat. Selain itu polisi juga telah mengumumkan lima dari sembilan orang yang tewas itu berasal dari lokasi rusuh yang pecah di Petamburan. Polisi masih mencari empat lokasi korban yang lain.



Sumber: BeritaSatu.com