JK Dukung Sistem Zonasi Sekolah

JK Dukung Sistem Zonasi Sekolah
Sejumlah siswa dan orang tua murid mendaftar seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan komputer di SMAN 1 Jakarta, Jakarta, Senin (24/6/2019). Sistem PPDB Jakarta Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta menggunakan tiga jalur penerimaan yakni jalur zonasi atau pemetaan wilayah sebanyak 90 persen, jalur prestasi sebesar lima persen dan jalur perpindahan orang tua wali sebesar lima persen, yang berlangsung dari tanggal 24-26 Juni 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta )
Robertus Wardi / FMB Selasa, 25 Juni 2019 | 19:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengemukakan sistem zonasi dalam pendaftaran siswa baru adalah untuk pemerataan pendidikan. Pasalnya sekolah favorit menerima siswa sangat terbatas, sementara yang mendaftar sangat banyak. Agar tidak terjadi rebutan sekolah favorit, perlu dilakukan sistem zonasi. Artinya pendafaran sekolah sesuai dengan domisili sang calon murid dan orang tuanya.

“Masyarakat kadang-kadang ingin anaknya sekolah favorit. Sekolah favorit itu memang akan terus ada. Sekolah favorit katakanlah menerima 200 orang sementara yang mendaftar 1.000 orang. Artinya dipilih terbaik. Sekolah favorit itu karena input yang bagus maka output-nya bagus, tetapi sistemnya guru-guru bagus,” kata JK di Istana Wapres, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).

Ia menjelaskan yang terjadi selama ini adalah setiap orang tua ingin mencari sekolah favorit. Akibatnya sekolah-sekolah yang tidak unggulan yang lokasinya di dekat domisilinya tidak dipilih. Kondisi itu membuat banyak sekolah tidak memiliki siswa. Di sisi lain, di sekolah favorit menjadi penuh, bahkan melebihi kapasitas.

“Zonasi, berarti output orang itu, anak-anak kita itu sekolah di sekolah terdekat. Jadi tidak awal-awal kalau tidak di situ, pokoknya terdekat, wilayah seperti itu. Jadi jaraknya mungkin akan jauh, tetapi semua ingin masuk sekolah favorit, agak susah juga, tidak mungkin diterima juga. Jadi supaya ada pemerataan, maka jangan anak-anak punya nilai tinggi hanya terkonsentrasi di sekolah favorit,” jelas JK.

Dia mengakui memang perlu ada perbaikan mutu untuk sekolah-sekolah yang ada. Hal itu agar setiap sekolah bisa sama kualitasnya. Dengan demikian tidak ada lagi sekolah favorit tetapi semua sekolah adalah favorit atau unggulan.

“Daerah melengkapi dengan fasilitas sekolah, komputer, dengan laboratorium, guru-guru dilatih. Kalau di DKI lebih mudah,” tutup JK.



Sumber: Suara Pembaruan