Menag Lukman Akui Terima US$ 30.000 dari Arab Saudi

Menag Lukman Akui Terima US$ 30.000 dari  Arab Saudi
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjalani pemeriksaan di kantor KPK, Jakarta, Rabu, 8 Mei 2019. Lukman diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap seleksi jabatan di lingkungan Kementerian Agama tahun 2018-2019 dengan tersangka Romahurmuziy. ( Foto: ANTARA FOTO / Sigid Kurniawan )
Fana Suparman / MPA Rabu, 26 Juni 2019 | 19:42 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengakui menerima uang US$ 30.000  dari pejabat Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia. Pengakuan ini disampaikan Lukman saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemag) dengan terdakwa Kakanwil Kemag Jatim Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Kemag Gresik Muafaq Wirahadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (26/6).

Mulanya, Jaksa KPK, Abdul Basir mengonfirmasi mengenai uang Rp 180 juta dan US$ 30.000 yang disita tim penyidik KPK saat menggeledah laci di ruang kerja Lukman beberapa waktu lalu. Lukman mulanya menyebut uang tersebut berasal dari tiga sumber, yakni dana operasional menteri, sisa honorarium dan sisa perjalanan dinas baik dalam ataupun luar negeri.

Namun, Jaksa kembali mempertanyakan sumber uang US$ 30.000 tersebut. Lukman kemudian mengakui, uang tersebut diterimanya dari Panitia Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang digelar di Indonesia. Panitia yang dimaksud Lukman merupakan Kepala Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia bernama Syeikh Saad Bin Husein An Namasi dan pendahulunya Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Alnughaimshi.

"Betul, ada dari Syeikh Ibrahim, dan Atase Agama sebelumnya Syeikh Saad," kata Lukman saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (26/6).

Jaksa Basir kembali mengonfirmasi pernyataan Lukman. Hal ini lantaran pengakuan Lukman dapat mempengaruhi hubungan Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi. Apalagi, jumlah uangnya jika dikonversi dalam Rupiah mencapai sekitar Rp 420 juta. Lukman memastikan hal tersebut. Lukman menuturkan, uang tersebut diterima di ruang kerjanya sekitar tahun 2018.

Lukman menuturkan, uang tersebut berasal dari keluarga Kerajaan Arab Saudi. Lukman menduga uang itu diberikan kepadanya lantaran Kerajaan Arab Saudi puas dengan pelaksanaan MTQ di Indonesia.

"Awalnya saya tidak terima, dia memaksa, saya terima. Tradisi di Arab itu dia kalau senang bisa kasih hadiah. Dia bilang saja, terserah gunakan untuk khairiyah, kebajikan. Itu pertengahan atau akhir tahun lalu. Bahkan lupa saya masih menyimpan dollar itu," katanya.

Lukman mengaku sebagai penyelenggara negara tidak boleh menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Termasuk uang.
"Itu dia yang saya katakan bahwa saya mengatakan tidak berhak menerima ini. Saya tahulah sebagai penyelenggara negara tidak boleh menerima gratifikasi," katanya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Haris Hasanudin telah menyuap Romahurmuziy alias Romy selaku anggota DPR sekaligus Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama (Menag). Suap sekitar Rp 325 juta itu diberikan Haris kepada Romy dan Lukman agar lolos seleksi dan dilantik sebagai Kakanwil Kemag Jatim.

Romy dan Lukman diduga berperan mengintervensi proses pengangkatan Haris Hasanuddin sebagai Kakanwil Kemenag Jawa Timur. Atas intervensi yang dilakukan Romy dan Lukman, Haris Hasanuddin bisa lolos dengan mudah menjadi Kakanwil Kemenag Jatim. Padahal, Haris pernah dijatuhi sanksi disiplin.



Sumber: Suara Pembaruan