Sofyan Basir Juga Terseret Kasus Bowo Sidik

Sofyan Basir Juga Terseret Kasus Bowo Sidik
Direktur Utama PT PLN nonaktif Sofyan Basir menggunakan rompi tahanan berada di dalam mobil tahanan seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019. ( Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar )
Fana Suparman / HA Kamis, 27 Juni 2019 | 02:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan memeriksa Dirut nonaktif PT PLN Sofyan Basir, Kamis (27/6/2019) ini. Sofyan bakal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan gratifikasi yang menjerat anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.

"Besok rencana akan dilakukan pemeriksaan terhadap Sofyan Basir mantan direktur utama PLN dalam perkara ini," Kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Sofyan Basir saat ini sedang menjalani persidangan sebagai terdakwa perkara dugaan suap proyek PLTU Riau-1. Febri masih enggan membeberkan secara rinci kaitan Sofyan dengan kasus gratifikasi yang diterima Bowo Sidik. Termasuk adanya dugaan gratifikasi yang diterima Bowo salah satunya dari PT PLN.

Febri hanya menyebut KPK saat ini sedang mendalami sumber-sumber gratifikasi yang diterima Bowo yang diduga mencapai sekitar Rp 8 miliar.

"Kami terus menelusuri dugaan-dugaan sumber aliran dana gratifikasi terhadap BSP (Bowo Sidik Pangarso) tersebut," katanya.

Bowo, anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung, serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti telah ditetapkan sebagai tersangka.

Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada 27 dan 28 Maret lalu.

Bowo melalui Indung diduga menerima suap dari Asty dan petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia lainnya terkait kerja sama bidang pelayaran menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Tak hanya suap dari PT Humpuss Transportasi Kimia, Bowo juga diduga menerima gratifikasi dari pihak lain. Secara total, suap dan gratifikasi yang diterima Bowo mencapai sekitar Rp 8 miliar. Uang tersebut diduga dikumpulkan Bowo untuk melakukan "serangan fajar" pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.



Sumber: Suara Pembaruan