Setara Institute: Mahasiswa Kampus Keagamaan Lebih Fundamentalis

Setara Institute: Mahasiswa Kampus Keagamaan Lebih Fundamentalis
Mahasiswa baru. ( Foto: Antara )
Maria Fatima Bona / JAS Senin, 1 Juli 2019 | 12:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setara Institute merilis hasil survei bertajuk ”Model Beragama Mahasiswa” di 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Peneliti Setara Institute Noryamin Aini mengatakan, ada 1.000 mahasiswa yang diadikan responden untuk survei berbasis kuantitatif ini.

Survei ini melingkupi beberapa topik seperti fundalimentalisme pendirian agama, konservatisme beragama, eksklusivisme-inklusivisme internal umat beragama, dukungan terhadap instrumen kekerasan agama, dukungan terhadap privatisasi agama dalam ranah publik, dan lainnya yang bersifat model beragama mahasiswa.

Dalam hal ini, khusus untuk hasil analisis temuan penelitian dalam mengukur fundalimentalisme pendirian agama di kalangan mahasiswa, menempatkan mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung pada posisi pertama dengan mendapat poin 45,0 dan UIN Jakarta mendapat poin 33,0.

Selanjutnya diikuti oleh Universitas Mataram (Unram) mendapat 32,0 poin; Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapat poin 24,0 poin; Universitas Negeri Yogyakarta mendapat poin 22,0 poin. Sedangkan, Universitas Gadjah Mada (UGM) memperoleh 12,0 poin; Universitas Brawijaya (Unbraw) memperoleh 13,0 poin; Institut Teknologi Bandung (ITB) mendapat 10,0 poin; Universitas Airlangga (Unair) mendapat poin 8,0; dan Univeritas Indonesia (UI) memperoleh poin 7,0.

“Fundamentalisme beragama bisa menjadi akar eksklusivisme dan perilaku intoleran, jika visi fundamentalisme dipaksakan di ranah kehidupan sosial," kata Noryamin pada Diskusi Hasil Riset bertajuk "Model Beragama Mahasiswa" di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta, Minggu (30/6).

Meski begitu, Noryamin juga mengatakan, aspek fundamentalisme tidak selalu menggambarkan sisi buruk cara beragama. Menurutnya, pada sisi tertentu, di ranah pribadi, seorang penganut agama memang harus memiliki visi fundamentalisme seperti keyakinan keagamaan yang kokoh.

Pasalnya, adapun untuk mengukur fundamentalisme dalam pandangan agama, peneliti menanyakan persetujuan atas beberapa pernyataan kepada responden sebagai berikut:

1. Jalan keselamatan dunia dan setelah mati hanya terdapat dalam ajaran agamaku.

2. Hanya ajaran agamaku yang bisa menjawab tuntas segala kebutuhan rohani setiap manusia.

3. Ajaran agamaku sudah sempurna, dan saya tidak memerlukan pedoman tambahan di luar agama.

4. Hanya ajaran agamaku yang dapat mewujudkan keadilan bagi masyarakat Indonesia.

5. Indonesia menjadi aman jika semua penduduknya seagama denganku.

Semakin tinggi nilai yang diperoleh dari kelima pernyataan di atas, maka semakin tinggi fundamentalisme beragama responden.

Noryamin menambahkan, kenyataan ini menunjukan kampus-kampus agama yang mengajarkan agama lebih menyeluruh dengan diyakini akan membentuk pola agama yang lebih moderat ternyata memperlihatkan kecenderungan beragama yang lebih konservatif dan lebih fundamentalis dengan kecenderungan seseorang lebih mudah menerima orang berbeda agama daripada yang berbeda paham keagamaan.

“Ini bisa menjadi konflik internal umat beragama di komunitas agama tertentu daripada orang ribut dilintas agama,”ujarnya.

Selanjutnya, Noryamin menyebutkan, dari analisis yang sangat beragam dilakukan oleh Setara Institut juga menemukan fakta pola pembentukan kecenderungan orang bersikap pada agama tertentu ternyata sangat ditentukan oleh banyak faktor. Mulai dari latar belakang kehidupan keluarga.

Pasalnya, hal ini sangat memengaruhi bagaimana ke depan seorang mahasiswa berperilaku keagamaan sikap inklusif dan eksklusif. Dalam hal ini, orang tua yang cenderung lebih terbuka itu lebih bisa menanamkan kejiwaan pada anak untuk menerima keragamaan.

Noryamin menuturkan, latar belakang mahasiswa ini terlihat dari hasil analisis sikap ekslusivisme dan inklusivisme internal umat beragama. Dalam hal ini, mahasiswa di Universitas Indonesia (UI), Universitas Airangga (Unair), dan Universitas Brawijaya menjadi tiga perguruan tinggi teratas sangat inklusif.

“Kami tidak mengatakan jika kampusnya yang inklusif atau eksklusif tetapi ini terkait mahasiswanya," ujarnya.

Sebagai informasi, riset tentang Model Beragama Mahaisiswa ini menggunakan studi kuantitatif dengan jumlah responden mencapai 1.000 orang dari 10 PTN. Ke-10 kampus yang diteliti yakni Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Mataram, UIN Jakarta, dan UIN Bandung. Mahasiswa yang dipilih tak hanya beragama Islam, namun juga Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha.

Dengan mayoritas responden 46,2 persen atau 462 orang berlatar belakang bidang ilmu alam, ilmu sosial 362 atau 36,2 persen dan 176 atau 17,6 persen berlatar belakang keilmuan humaniora. Selain itu, 80,2 persen m responden berlatar belakang pendidikan di sekolah umum, dan hanya 14 persen yang berlatar belakang sekolah agama atau dengan kata lain mayoritas responden tidak mengenyam pendidikan dominan agama dengan rentan usia 19-21 tahun.

Sementara itu, Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos (Choky) mengatakan, hasil riset yang dilakukan oleh lembaganya ini sebagai masukan untuk pemerintah. Dalam ini ada beberapa masukan meliputi: Pertama; Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) diminta untuk merivisi kembali penempatan mata kuliah agama yang saat ini diajarkan pada awal semester sebaiknya dipindahkan ke semester lima.

Choky menjelaskan, kenapa harus di semester lima karena ketika mahasiswa semakin tinggi jenjangannya ia akan semakin disibukkan dengan kegiatan pembelajaran lain. Dengan begitu, ajakan untuk bergabung dengan satu kelompok sulit terwujud. Hal ini berbeda dengan semester awal mahasiswa akan mudah untuk mengikuti ajakan satu kelompok apalagi dosen agama memiliki jaringan dengan kelompok tertentu.

Kedua; Dosen agama harus benar-benar berasal dari lulusan fakultas keagamaan yang belajar Filsafat. “Kenapa harus demikian karena jika pelajaran agama ini diajarkan oleh dosen yang memiliki keterikatan dengan kelompok eksklusif akan membawa paham-paham itu dalam pengajarannya,” ujarnya.

Selain itu, Choky juga mendoorng Kemristekdikti untuk membuat kebijakan memoderasikan pandangan keagamaan bagi para pejabat kampus, serta kampus harus sesering mungkin mendatangkan tokoh agama yang menjunjung tinggi keberagamaan karena kampus harus merepresentasikan Indonesia.

Direktur Eksekutif Setara Institute, Ismail Hasani mengatakan, hasil survei yang dirilis Setara Institute harus menjadi perhatian. Dalam hal ini, ia mengharapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kepemimpinannya lima tahun mendatang ini harus fokus memberantaskan terhadap isu intolernasi dan radikalisme ini.



Sumber: BeritaSatu.com