Gunakan SKD "Aspal", 96 Calon Siswa di Jateng Dicoret

Gunakan SKD
Gubernur Jawa Tengah Ganjar pranowo (kiri) saat mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Semarang, 1 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Stefy Thenu )
Stefy Thenu / HA Selasa, 2 Juli 2019 | 21:05 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Sebanyak 96 calon siswa di sejumlah SMA negeri di Jawa Tengah terpaksa dicoret dari pendaftaran karena terbukti menggunakan Surat Keterangan Domisili (SKD) dan Kartu Keluarga (KK) asli tetapi palsu (aspal).

Disebut asli karena SKD dan KK tersebut resmi dikeluarkan oleh pejabat pemerintahan terkait. Namun palsu, karena periode domisili dalam SKD tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Diketahui orang tua calon siswa memalsu domisili hanya untuk bisa masuk dalam zonasi sekolah yang diinginkan.

"Ketentuannya sudah jelas, kalau mau pindah dan menggunakan SKD, minimal sudah bertempat tinggal di lokasi itu selama enam bulan. Namun ternyata masih ada yang berbuat curang," tegas Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (2/7/2019).

Hingga hari kedua penerimaan peserta didik baru (PPDB) online untuk SMA hari ini, menurut Ganjar, sudah ada 1.117 pendaftar yang menggunakan SKD. Setelah diverifikasi, dari jumlah itu hanya 1.021 SKD valid, sementara sisanya sekitar 96 SKD tidak valid.

"Terhadap mereka langsung kita coret. Yaitu, calon siswa yang mendaftar menggunakan SKD yang tidak valid, langsung kita coret," tegas Ganjar.

Pencoretan calon siswa yang menggunakan SKD aspal terjadi di sejumlah sekolah. Di antaranya di SMAN 1 Kendal sebanyak tujuh calon siswa, SMAN 1 Purworejo enam calon siswa, SMAN 1 Purwokerto 17 calon siswa, SMAN 1 Pekalongan 23 calon siswa dan SMAN Pati ada 12 yang dicoret.

"Itu beberapa contoh yang kami coret karena menggunakan SKD tidak valid. Itu yang agak banyak," tegasnya.

Meskipun dicoret, Ganjar menegaskan calon siswa tersebut bukan berarti tidak mendapatkan sekolahan. Ganjar meminta kepada calon siswa dan orang tua untuk kembali ke jalan yang benar dengan cara mendaftar lagi tanpa menggunakan SKD atau KK baru.

"Kecuali kalau memang ada orang tua yang menyatakan selama ini memang tinggal di dekat sekolah, namun lupa mengurus surat-surat, silakan saja. Namun akan tetap kami verifikasi," tegasnya.

Seluruh berkas administrasi dari 96 calon siswa yang kedapatan menggunakan SKD tidak valid tersebut langsung dikembalikan. Ganjar meminta calon siswa dan orang tua yang dicoret untuk mendaftar dari awal ke zonasinya masing-masing atau menggunakan jalur prestasi.

"Tapi jangan berbohong. Jangan bikin susah anak anda, kasihan. Ini sekaligus juga warning saya kepada orang tua, bahwa saya serius, ini saya coret beneran. Kasihan anak anda, maka di sini saya tidak ekspos nama-namanya. Tolong kembali ke jalan yang benar, kembali ke zona masing-masing atau menggunakan jalur prestasi," tegasnya.

Terkait temuan SKD aspal itu, Ganjar langsung menggelar rapat dadakan. Pihaknya juga langsung memerintahkan kepada seluruh kepala sekolah SMAN di Jawa tengah untuk melakukan pengecekan dan evaluasi terhadap SKD dan KK yang baru.

"Saya perintahkan malam ini juga dicek semua SKD dan KK baru, karena itu sebagai satu indikasi, kemungkinan ada ketidakbenaran. Ini kan masih hari kedua pendaftaran, maka masih ada waktu. Mulai malam ini sampai pendaftaran ditutup, semua harus melakukan verifikasi," pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng, Jumeri mengatakan, pihaknya akan bersikap ketat dalam pengecekan SKD dan KK baru yang dibawa orang tua. Pengecekan dilakukan untuk mengetahui apakah SKD dan KK baru tersebut benar-benar valid.

"Kalau ada data tidak valid, penipuan atau pemalsuan, akan kami cabut. Langsung kami gugurkan. Kami juga akan melakukan visitasi rumah guna mengecek kondisi di lapangan," tegasnya.

Dirinya juga mengimbau kepada seluruh orang tua calon siswa untuk tidak menggunakan SKD yang palsu. Sebab, semua bentuk pemalsuan akan dapat diketahui karena proses verifikasi dilakukan secara ketat.



Sumber: Suara Pembaruan