Harga TBS Sawit di Kalbar Kembali Turun

Harga TBS Sawit di Kalbar  Kembali Turun
TBS Sawit. (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana)
Sahat Oloan Saragih / RSAT Rabu, 3 Juli 2019 | 15:31 WIB

Pontianak, Beritasatu.com - Petani sawit di Desa Madani Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) mengeluhkan penurunan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani yang terus menurun.

“Sejak satu mingggu terakhir ini harga TBS di tingkat petani mengalami penurunan, di mana sebelumnya mencapai Rp 1050/kg, sekarang ini turun menjadi Rp 900/kg,” ujar salah seorang petani sawit, Abdullah (57) kepada wartawan, Rabu (3/7/2019).

Abdullah mengatakan, sebelum terjadi penurunan harga seperti sekarang ini pendapatan petani sawit masih lumayan. Sebab harganya masih cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp 1.050 - 1.100, per Kg.

Dengan harga seperti itu, pendapatan atau hasil panen petani masih mencukupi untuk pemeliharaan kebun dan juga biaya operasinal. “Artinya kebun petani masih tetap terpelihara dengan baik sebab hasilnya cukup untuk membiayai kebutuhan pemeliharaan,” ujar Abdullah.

Namun jika harga TBS seperti sekarang ini, petani akan kesulitan untuk melakukan pemeliharaan kebun, karena biaya operaisonal kebun tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh atau hasil panen.

“Belum lagi biaya pembelian pupuk dan penyemprotan selalu meningkat, begitu juga upah pekerja,” kata Abdullah.

Menurut Abdullah, harga TBS d itingkat petani sekarang hanya berkisar antara Rp 900 - 950/kg, sementara biaya yang dibutuhkan untuk pemeliharaan kebun dan pembiayaan untuk panen semakin lama semakin meningkat.Jika kebun tidak dipelihara atau dirawat maka hasil panennya akan berkurang atau kemungkinan besar kebun sawit akan rusak.

Untuk itu pihaknya mengharapkan pemerintah dapat memperhatikan kondisi harga TBS di tingkat petani agar tidak terus turun dan tidak anjlok seperti sekarang ini.

Abdullah mengharapkan harga TBS di tingkat petani dapat stabil, minimal Rp 1.100/kg. Sehingga mampu memelihara kebun dan pendapatan petani dapat stabil.



Sumber: Suara Pembaruan