Kemarau, Warga Tanjungjabung Timur Mulai Krisis Air Bersih

Kemarau, Warga Tanjungjabung Timur Mulai Krisis Air Bersih
Musim kemarau. ( Foto: Antara )
Radesman Saragih / JEM Senin, 8 Juli 2019 | 07:31 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Warga Muarasabak, Kabupaten Tanjungabung Timur (Tanjabtim), Provinsi Jambi mulai mengalami krisis air bersih menyusul musim kemarau yang melanda daerah itu. Warga Muarasabak yang selama ini mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih kini kesulitan air karena curah hujan di pantai timur Jambi itu berkurang. Kemudian pasokan air perusahaan daerah air minum setempat juga tidak lancar akibat kemarau.

Andi Rachmat (35), warga Muarasabak di Muarasabak, Tanjabtim, Jambi, Minggu (7/7/2019) mengatakan, warga di pantai timur Jambi itu kesulitan air bersih karena sumber air turun drastis akibat kemarau. Baik sumber air hujan yang selama ini menjadi andalan warga, maupun sumber air dari perusahaan air minum daerah itu.

“Warga di Muarasabak jarang memiliki sumur karena permukiman berada di pesisir pantai. Kemudian air dari sumur bor yang ada di permukiman juga tidak bisa dikonsumsi karena mengandung garam,” katanya.

Menurut Andi Rachmat, untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk konsumsi, warga daerah itu kini mengandalkan air mineral yang dijual di toko – toko. Pasokan air mineral yang dijual di Muarasabak dengan harga Rp 10.000 – Rp 20.000/galon sebagian besar berasal dari Kota Jambi.

Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Sistem Pengolahan Air Minum (UPTD SPAM) Kabupaten Tanjabtim, Ahmad Fauzan mengatakan, pihaknya menyiapkan tiga unit mobil tangki air untuk menyuplai bantuan air bersih di Muarasabak. Satu unit mobil tangki air tersebut memiliki kapasitas 6.000 liter, satu unit memiliki kapasitas 5.000 liter dan satu unit lagi memiliki kapasitas 1.000 liter.

Selain itu, kata Ahmad Fauzan, pihak UPTD SPAM Tanjabtim juga kini melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan pipa air mencegah dan menanggulangi kebocoran air. Upaya itu dilakukan sebab setiap musim kemarau, pipa air sering pecah akibat tanah kering.

Menurut Ahmad Fauzan, memasuki musim kemarau saat ini, produksi air perusahaan air minum daerah itu juga menurun akibat menurunnya debit air Sungai Batanghari di wilayah Kecamatan Dendang dan di Kecamatan Rantau Rasau.

“Kesulitan air bersih di Tanjabtim tidak dapat dihindari pada musim kemarau ini karena air hujan yang selama ini diandalkan warga memenuhi kebutuhan air bersih berkurang drastis. Kemudian pasokan air perusahaan air minum daerah ini juga berkurang. Karena itu kami meminta warga hemat air,” katanya. 



Sumber: Suara Pembaruan