Polri Bongkar Penipuan Bermodus Mobil Lelang

Polri Bongkar Penipuan Bermodus Mobil Lelang
Ilustrasi mobil bekas ( Foto: Antara/Zabur Karuru )
Farouk Arnaz / YUD Senin, 8 Juli 2019 | 16:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jeruji penjara tidak membuat akal kriminal HAS, yang saat ini masih menjalani hukuman di Lapas Siborong-Borong Tapanuli Utara, Sumatera Utara, berhenti melakukan kejahatan.

Dari balik jeruji lelaki yang diproses hukum atas perkara narkoba itu mengendalikan penipuan dengan modus lelang yang mengatasnamakan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

“Ada lima orang komplotan HAS yang merugikan korbannya hingga miliaran rupiah,” kata Kasubdit I Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Dani Kustoni di Mabes Polri. Senin (8/7/2019).

Kasus ini terbongkar saat Selasa 9 April 2019, polisi melakukan penangkapan terhaadap MF (38 tahun) yang beralamat di di JI Rahmadsyah gg Insyaf, Medan.

Selanjutnya penyidik melakukan pengembangan dan pengejaran terhadap tersangka lain ditempat yang berbeda dan berhasil menangkap MA (61) di Jl. Jalan Raya Tiku Selatan,Pariaman Padang, Sumatera Barat.

“Dari hasil pengembangan MF dan MA penyidik melakukan penangkapan terhadap tiga tersangka lain yakni AF (ditangkap di Jl. Utama Medan), KRY (ditangkap di Jl. Halat, Medan), dan AT (ditangkap di JI. AH Nasution, Medan) pada tanggal 16 April,”urainya.

Para tersangka diduga melakukan tindak pidana penipuan online dengan menggunakan aplikasi media sosial WhatsApp yang mengatasnamakan dari KPKNL.

Penangkapan ini setelah polisi mendapatkan laporan yang kemudian diketahui dikendalikan oleh tersangka HAS itu. HAS mengirimkan WA kepada korban pada 24 Februari secara random. Isinya penawaran mobil dibawah harga standar yang seolah-olah diadakan pihak KPKNL.

Dalam komunikasi tersebut tersangka berpura-pura mengaku sebagai pejabat KPKNL, melakukan bujuk rayu, dan menipu para korban untuk melakukan pembelian mobil lelang tersebut.

Dalam melakukan aksinya tersangka juga menggunakan tampilan foto profil salah satu pejabat dari KPKNL yang bertujuan untuk membuat yakin korban. Faktanya KPKNL tidak pernah mengadakan kegiatan Ielang kendaraan tersebut.

“Dari hasil penipuan online para tersangka mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1,170 miliar.
MF dkk bertugas menyiapkan rekening penampung hasil kejahatan dan sebagai eksekutor yang mengambil uang hasil kejahatan,” tambahnya.

Dari tangan tersangka polisi menyita 15 unit HP, 2 buah buku tabungan rekening Bank Mandiri, 2 buah ATM Bank Mandiri, 6 buah ATM Bank BNI, 3 buah ATM Bank BCA, 1 buah ATM Bank BRI, dan lainnya.

Atas perbuatan tersebut, tersangka dijerat dengan Pasal 45a ayat (1) jo Pasal 28 ayat (1) UU Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 82 dan 85 UU Nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana.

Juga Pasal 3, 4, 5 dan pasal 10 UU RI nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan/atau pasal 55 ayat 1 ke (1) jo pasal 64 KUHP.



Sumber: BeritaSatu.com