Syafruddin Temenggung Dilepas MA, Kuasa Hukum Jemput ke Rutan KPK

Syafruddin Temenggung Dilepas MA, Kuasa Hukum Jemput ke Rutan KPK
Syafruddin Arsyad Temenggung. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / YUD Selasa, 9 Juli 2019 | 15:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim kuasa hukum Syafruddin Arsyad Temenggung mendatangi Rumah Tahanan Kelas I Cabang Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (9/7/2019). Salah satu anggota tim Kuasa Hukum Syafruddin, Ahmad Yani terlihat tiba di Rutan KPK sekitar pukul 15.10 WIB dengan menggunakan mobil jenis MVP warna hitam.

Kedatangan tim kuasa hukum Syafruddin itu tak berselang lama setelah Mahkamah Agung (MA) memutus mengabulkan Kasasi yang diajukan oleh Syafruddin atas perkara dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI). Dalam amar putusannya, Majelis Hakim Agung MA melepaskan Syafruddin dari segala tuntutan hukum dan memerintahkan agar Syafruddin dikeluarkan dari tahanan. Putusan MA ini bertepatan dengan berakhirnya masa penahanan Syafruddin pada hari ini, Selasa (9/7/2019).

Ahmad Yani masih enggan berkomentar banyak. Termasuk saat dikonfirmasi mengenai putusan MA yang melepaskan kliennya dari segala tuntutan dan tahanan. Ahmad Yani berjanji akan menyampaikan keterangan setelah menjemput kliennya di Rutan KPK.

"Nanti ya setelah keluar," kata Ahmad Yani di depan Rutan KPK, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Diketahui, Majelis Hakim Agung MA mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh terdakwa mantan BPPN Syafruddin Arsyad Temenggung yang menjadi terdakwa perkara dugaan korupsi SKL BLBI. Dalam amar putusannya, Majelis Hakim Agung MA membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menjatuhkan hukuman 15 tahun pidana penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan terhadap Syafruddin.

Dalam amar putusannya, Majelis Hakim MA menyatakan terdakwa Syafruddin terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan, akan tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana. Dengan demikian, Majelis Hakim Agung menyatakan melepaskan terdakwa Syafruddin dari segala tuntutan hukum. Majelis Hakim Agung juga memutuskan memerintahkan agar Syafruddin dikeluarkan dari tahanan.

Putusan ini diambil Majelis Hakim Agung yang diketuai Salman Luthan dengan Hakim Anggota Syamsul Rakan Chaniago dan Mohamad Askin. Meski demikian, dalam memutuskan perkara ini, terdapat dissenting opinion atau perbedaan pendapat diantara Majelis Hakim Agung. Hakim Ketua Salman Luthan sependapat dengan putusan Pengadilan tingkat pertama dan tingkat kedua.

Sementara Hakim Anggota Syamsul Rakan Chaniago berpendapat perbuatan Syafruddin merupakan perbuatan hukum perdata. Sedangkan Hakim Anggota M. Askin menyatakan perbuatan Syafruddin merupakan perbuatan hukum administrasi.



Sumber: Suara Pembaruan