Purnomo Yusgiantoro: Indonesia Butuh Ketahanan Energi yang Berkelanjutan

Purnomo Yusgiantoro: Indonesia Butuh Ketahanan Energi yang Berkelanjutan
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, berbicara dalam seminar bertajuk "Implementasi Rencana Umum Energi Daerah untuk Ketahanan Energi yang Berkelanjutkan", diĀ Gedung Pascasarjana Undip Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 9 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / JEM Rabu, 10 Juli 2019 | 14:00 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Pada 2045 mendatang, Indonesia diharapkan sudah menjadi negara industri yang berbasis pada nilai tambah. Untuk mengejar hal tersebut diperlukan sumber daya yang tidak kecil. Di sisi lain, Indonesia juga diharapkan dapat mengurangi penggunaan energi fosil yang tidak dapat diperbaharui.

"Untuk ketahanan energi yang berkelanjutan, Indonesia dituntut untuk mampu menghadirkan dan menggunakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT)," ujar mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, dalam seminar bertajuk "Implementasi Rencana Umum Energi Daerah untuk Ketahanan Energi yang Berkelanjutkan", di Gedung Pascasarjana Undip Semarang, Selasa (9/7/2019).

Dalam seminar yang diselenggarakan Magister Energi Universitas Diponegoro dan Purnomo Yusgiantoro Center itu, Purnomo menegaskan, kecenderungan penggunaan energi di masa mendatang adalah pemberian ruang yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk mengelola konsumsi dan memasok sumber energi.

Dijelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 30/2007 tentang Energi pemerintah wajib membuat Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), sedangkan pemerintah daerah diminta untuk membuat Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang merupakan penjabaran dari RUEN.

"Dewan Energi Nasional (DEN) telah menetapkan bauran energi primer, minyak bumi 25%, gas bumi 22%, batubara 30% dan EBT 23%. Target ini tentu membutuhkan infrastruktur listrik yang terus menerus dan berkesinambungan. Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) pun telah dipatok untuk tidak lebih dari 25% pada 2025 mendatang," tegas Purnomo yang juga mantan Menhan ini.

Purnomo Yusgiantoro berpendapat, ada beberapa faktor yang memengaruhi ketahanan energi di dunia yaitu politik dan keamanan. “Politik dan keamanan merupakan sumber konflik dan sangat berpengaruh pada ketahanan energi dunia,” kata Purnomo.

Purnomo mencontohkan, konflik di Malaysia dan Brunei terhadap minyak, konflik Laut China Selatan dan konflik lainnya sering tumpang tindih dengan sumber daya alam (SDA) yang terkandung di dalamnya.

“Pada periode 2030-2040 pemakaian energi fosil masih sangat dominan. Hal itu membuat tingkat ketergantungan terhadap energi fosil makin tinggi. Jadi perlu energi alternatif,” katanya.

Dijelaskan, saat ini ketersediaan sumber daya minyak bumi 56,60 miliar barel dengan cadangan terbukti 3,17 miliar barel, ketersediaan batu bara 140,48 miliar barel dengan cadangan terbukti 15,5 miliar barel, dan ketersediaan gas bumi 15,00 miliar barel dengan cadangan 100,4 miliar barel.

Sedangkan potensi untuk sumber daya terbarukan yakni tenaga air sebesar 75.670 Mw, panas bumi sebesar 27.670 Mw, bioenergi 49.810 MW, Tenaga surya 207.898 MW, dan tenaga angin 9.290 MW

"Saat ini tenaga tenaga air baru dimanfaatkan 6,75%, panas bumi 6,5%, bioenergi 3,6%, tenaga surya 1,4%, dan tenaga angin 0,01%," paparnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, Sudjarwanto Dwiatmoko mengungkapkan, Jawa Tengah telah membuat Perda RUEN pada 2016.

Untuk road map energi baru dan terbarukan sampai 2025, menurut Sudjarwanto, Jateng mematok target 21,32%. Diakui, memang masih di bawah target nasional sebesar 23,%.

"Target sebesar itu memang yang bisa dijalankan pemerintah Jateng. Sudah dihitung, tapi kami berjanji nantinya bisa ditingkatkan jadi lebih dari 23%," ujarnya.

Dijelaskan, potensi energi terbarukan di Jawa Tengah cukup besar. Untuk panas bumi, Jateng terbesar di Indonesia, diperkirakan sebesar 2.500 MW atau 5,7% dari seluruh cadangan nasional sebesar 29.000 MW.

"Saat ini yang sudah operasional di Dieng Wonosobo dengan total kapasitas sebesar 1 X 60 MW atau 5,1 % dari kapasitas total nasional sebesar 1.189 MW," tambahnya.

Menurutnya, penggunakan energi listrik panas bumi lebih ramah lingkungan. Potensi gas rawa sebesar yang sudah dilakukan kajian sebesar 14.528.394 SCF.

Jawa Tengah juga sudah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) solar home system (SHS) untuk solusi mengatasi kebutuhan energi listrik untuk penerangan rumah tangga di daerah terpencil.

"Sudah terbangun 575 unit rumah PLTS SHS dengan kapasitas terpasangan 33,1 kilowatt peak (KWp). Selain itu juga untuk PLTS penerangan jalan umum sebanyak 979 unit dengan kapasitas terpasang 231 KWp," ungkapnya.

Ketua Program Studi Magister Energi Undip, Jaka Windarta selaku tuan rumah mengatakan, Program Studi Magister Energi Undip berdiri Februari 2014 dan mulai menerima mahasiswa baru pada 2015. Prodi ini menerima mahasiswa dari berbagai displin ilmu eksakta dan ekonomi. Saat ini ada dua konsentrasi yakni Konsentrasi Energi Baru dan Terbarukan dan Konsentrasi Perencanaan Energi.



Sumber: Suara Pembaruan