Kurun Waktu 2 Tahun, Polda Sumut Tembak Mati 40 Bandar Narkoba

Kurun Waktu 2 Tahun, Polda Sumut Tembak Mati 40 Bandar Narkoba
Ilustrasi. ( Foto: BSMH )
Arnold H Sianturi / FER Rabu, 10 Juli 2019 | 20:30 WIB

Medan, Beritasatu.com - Dalam kurun waktu dua tahun, sebanyak 40 orang bandar dan pengendali dalam bisnis narkoba jaringan internasional ditembak mati di Sumatera Utara (Sumut). Dalam mengambil tindakan itu, tidak sedikit barang bukti sabu-sabu dan pil ekstasi yang berhasil disita.

"Tindakan tegas ini dilakukan petugas karena bandar narkoba itu memberikan perlawanan saat ditangkap," ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Hendri Marpaung, di sela-sela HUT ke - 73 Bhayangkara di Lapangan Merdeka Medan, Rabu (10/7/2019).

Hendri mengatakan, petugas yang melakukan pemberantasan narkoba menembak mati bandar dan pengendali juga untuk memutus mata rantai jaringan narkoba. Harapan petugas, tidak ada lagi bandar yang menjalankan bisnis haramnya di tengah masyarakat.

"Kami tetap berkomitmen untuk terus memberantas peredaran narkoba, termasuk menembak mati bandar dan pengendali narkoba. Untuk kurirnya dipastikan tidak akan ditembak, sebab mereka hanya korban dari pengendali dan bandar narkoba. Proses hukum tetap jalan," katanya.

Hendri mengungkapkan, kalangan bandar lebih memilih memberikan perlawanan saat akan ditangkap petugas. Para pelaku narkoba ini menyerang petugas dengan harapan bisa lolos dari penyergapan. Para bandar ini pun sudah memahami resiko dari perlawanan yang dilakukan.

"Kalangan bandar dan pengendali narkoba ini sudah mengetahui dirinya jika ditangkap pasti mendapatkan hukuman sangat berat oleh pengadilan. Hukuman terberat adalah hukuman mati, atau paling tidak dihukum seumur hidup. Sehingga, mereka berani melawan," ungkapnya.

Hendri tidak memungkiri, peredaran narkoba oleh sindikat, banyak dikendalikan oleh narapidana yang sedang menjalani hukuman. Peredaran narkoba juga sering dilakukan pelaku narkoba meski masih menjalani hukuman di dalam lembaga pemasyarakatan tersebut.

"Untuk mengungkap dan menbongkar jaringan ini bisa dilakukan setelah petugas berhasil menangkap pelakunya. Kemudian, dikembangkan ke napi jika ada pengakuan dari orang yang ditangkap. Dengan cara ini kemudian petugas bisa mengungkap keterlibatan napi," jelasnya.

Bila langsung melakukan penindakan ke lapas, sambung Hendri, tidak mudah dilakukan. Sebab, lapas dimaksud berbeda institusi. Narkoba beredar di lapas karena para bandar dianggap pengguna yang memberikan harapan bagi orang-orang adiktif (para pengguna).

"Jadi, selain mengendalikan bisnis narkoba dari dalam penjara, para bandar juga menjalankan bisnis haramnya di dalam penjara. Oleh karena itu, butuh komitmen dari semua pihak, termasuk masyarakat untuk mengambil peranan memberantas narkoba," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan