Kasus Garuda, KPK Cecar Emirsyah Soal Aliran Dana Lintas Negara

Kasus Garuda, KPK Cecar Emirsyah Soal Aliran Dana Lintas Negara
Emirsyah Satar. ( Foto: Antara / Hafidz Mubarak A )
Fana Suparman / MPA Rabu, 10 Juli 2019 | 20:32 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, Rabu (10/7/2019). Emirsyah diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero) periode 2004-2015.
Dalam pemeriksaan ini, tim penyidik mencecar Emirsyah terkait adanya dugaan aliran dana lintas negara. Aliran dana ini ditemukan penyidik dalam proses penyidikan kasus ini.

"Dalam pemeriksaan tersangka ESA (Emirsyah Satar) hari ini, KPK mengonfirmasi temuan baru tentang dugaan aliran dana lintas negara. Aliran dana tersebut diduga terkait dengan tersangka," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/7).

Febri mengatakan penyidik menemukan dugaan penggunaan puluhan rekening bank di luar negeri. Puluhan rekening itu diduga terkait dengan dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di Garuda yang turut menjerat pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo.

"Dalam beberapa waktu belakangan, KPK menemukan adanya dugaan penggunaan puluhan rekening bank di luar negeri terkait perkara ini," katanya.

Usai diperiksa, Emirsyah mengakui terdapat sejumlah pertanyaan tambahan yang dikonfirmasi tim penyidik. Namun, Emirsyah mengaku lupa lantaran peristiwa yang ditanyakan penyidik sudah lama. "Sebaiknya sih tanya penyidik ya, penyidik tau. Memang ada saya ditanya beberapa, ada tambahan karena waktunya sudah cukup lama saya perlu waktu untuk melihat lagi. Nanti dilanjutkan lagi," kata Emirsyah.

Diketahui, KPK menetapkan Emirsyah Satar dan Soetikno sebagai tersangka pada 16 Januari 2017. Namun hingga saat ini, KPK belum juga merampungkan penyidikan kasus dugaan suap di PT Garuda yang menjerat keduanya. Bahkan, Emirsyah dan Soetikno hingga kini belum ditahan KPK.

Ketua KPK, Agus Rahardjo sebelumnya optimistis dapat segera merampungkan penyidikan kasus ini. Bahkan Agus menargetkan berkas perkara kasus ini dapat dilimpahkan ke tahap penuntutan dan menyeret kedua tersangka ke Pengadilan Tipikor pada akhir Juli mendatang.

Paling lambat Juli kita sudah limpahkan ke persidangan," kata Agus di sela-sela Buka Puasa Bersama awak media di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/5).

Agus mengatakan, penyidikan kasus ini telah memasuki tahap akhir. Apalagi, KPK saat ini telah menerima sejumlah dokumen penting dari otoritas Singapura. Dokumen dari otoritas Singapura ini diperlukan KPK karena Connaught International milik Soetikno yang diduga menerima uang dari Rolls-Royce untuk Emirsyah beroperasi di Negeri Jiran tersebut.

"Paling akhir Juli sudah proses, insya Allah, kerena kita sudah terima berkasnya semua dari Singapura," kata Agus.

Dalam kasus ini, KPK menyangka Emirsyah Satar telah menerima uang sebesar US$ 2 juta dan dalam bentuk barang senilai US$ 2 juta dari Rolls-Royce melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd. Suap itu diduga terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014.



Sumber: Suara Pembaruan