1.319 Desa di Jateng Dilanda Kekeringan

1.319 Desa di Jateng Dilanda Kekeringan
Ilustrasi kekeringan. ( Foto: Antara / Mohammad Ayudha )
Stefi Thenu / JAS Jumat, 12 Juli 2019 | 09:29 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menuturkan, menurut hasil identifikasi 1.319 desa di 287 kecamatan yang ada di 31 kabupaten/kota di Jawa Tengah rawan mengalami kekeringan.

Saat musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus hingga November 2019, 2.056.287 warga di 287 kecamatan di 31 kabupaten/kota tersebut berisiko menghadapi dampak kekeringan, seperti kesulitan mendapatkan air bersih.

"Petanya sudah jelas karena setiap tahun terjadi sebenarnya, tinggal pola antisipasi sehingga tidak menjadi hal baru, tetapi kita peringatkan, kira-kira puncak kemaraunya Agustus, ada yang Oktober dan November," ujar Ganjar.

Dalam upaya mengantisipasi dampak kekeringan pada puncak musim kemarau, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah meminta jajaran petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan 1.000 tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di daerah yang kena dampak kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Suryo Banendro mengungkapkan, musim kering berpotensi membuat hasil produksi pertanian dan perkebunan beberapa komoditas di Jawa Tengah mengalami penurunan.

“Ada potensi hasil produksi akan berkurang, ya tentunya. Misal fase tanam padi yang baru mengisi bulir padi terus kering sehingga isiannya tidak maksimal. Artinya produktivitas hasil per hektare bisa menurun,” kata Suryo.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah telah melakukan berbagai upaya dalam menghadapi musim kemarau di Jawa Tengah.

Upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut, antara lain memberikan informasi mengenai kondisi iklim dari BMKG yang dikaitkan dengan budidaya tanam seperti penggunaan varietas toleran kekeringan seperti varietas situbagendit.

Kemudian, lanjutnya sistem pengairan berselang sehingga penggunaan air lebih efisien dan digunakan merata.

Kemudian, melakukan pengairan secara bergiliran atau bergantian per areal atau desa pada daerah-daerah yang memiliki debit air terbatas, melakukan optimalisasi operasional pompa-pompa air yang sudah ada.

Adapun terkait dengan jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman palawija seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah yang membutuhkan sedikit air.



Sumber: Suara Pembaruan