Kapolri Sebut Indonesia Masih Berpotensi Alami Perpecahan

Kapolri Sebut Indonesia Masih Berpotensi Alami Perpecahan
Kapolri Tito Karnavian. ( Foto: Beritasatu Photo / Yeremia Sukoyo )
Yeremia Sukoyo / WBP Jumat, 12 Juli 2019 | 09:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kapolri Tito Karnavian mengingatkan, bangsa Indonesia masih berpotensi mengalami perpecahan akibat faktor internal dan eksternal. Khusus internal bisa terjadi karena faktor demografi.

"Potensi pecah bisa terjadi. Bukan kita pesimistis," kata Tito Karnavian saat memberikan pembekalan kepada 781 orang calon perwira (Capaja) TNI dan Polri Tahun 2019 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (12/7/2019).

Tito mengatakan, Indonesia telah sukses mempertahankan NKRI selama 74 tahun. namun dia mengingatkan, di tengah perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan, harus diakui Indonesia belum mampu menciptakan negara yang masyarakatnya didominasi kelas menengah. "Kita harus jujur bahwa kita belum mampu membuat bangsa yang didominasi kelas menengah. Indikator negara kuat dan stabil adalah kelas menengah yang besar," ucap Tito Karnavian.

Dicontohkan Tito, seluruh negara besar dan kuat hampir dipastikan masyarakatnya didominasi kelas menengah. Untuk masyarakat kelas bawah keberadaannya hanya sebagian kecil. di antaranya Amerika, Singapura, Selandia Baru, Denmark, Norwegia, dan lain-lain "Potensi konflik menjadi lebih rendah karena kecukupan. Bangsa yang memiliki kelas menengah yang lebih besar, akan meminimalkan konflik," ucap Tito Karnavian.

Sebaliknya, kata Tito, bangsa yang memiliki banyak kelas bawah rentan kecemburuan sosial, rentan diprovokasi hingga rentan diadu domba. "Kita lihat,  Indonesia sampai saat ini masih didominasi kelas bawah, masih berbentuk piramid. Itu yang menjadi potensi perpecahan dari sudut pandang internal. Selama 74 tahun dominasi low clas, pengangguran masih tinggi," kata Tito Karnavian.

Menurut Tito, walaupun pemerataan kesejahteraan naik, namun relatif masih kurang. Semua ini akan memicu munculnya isu-isu lain yang bersifat primordial. "Isu ideologi, agama, perbedaan suku, ras, akan muncul ketika terjadi permasalahan di bidang kesejahteraan ekonomi," ujar Tito Karnavian.

Untuk faktor eksternal, dijelaskan Tito, Indonesia tidak berada di ruang vakum atau berdiri sendiri. Ada dinamika hubungan internasional yang melibatkan Indonesia. Perpecahan juga bisa terjadi jika bangsa Indonesia tidak mampu mengikuti perkembangan global.

Turut hadir hadir Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Staf Angkatan, Danjen Akademi TNI Laksamana Madya (Laksdya) TNI Aan Kurnia, Kalemdiklatpol Komjen (Pol) Arief Sulistyanto, dan lain-lain. Pembekalan calon perwira TNI dan Polri dilakukan sekaligus untuk persiapan pelaksanaan Prasetya Perwira TNI dan Pelantikan Perwira Polri di Istana Merdeka Selasa (16/7/2019) mendatang.

Prasetya Perwira TNI dan Pelantikan Perwira Polri 2019 merupakan upacara penyumpahan dan pelantikan perwira TNI dan Polri, lulusan dari Akademi Angkatan (Akmil, AAL, AAU dan Akademi Kepolisian). Dalam kesempatan itu Presiden selaku panglima tertinggi Joko Widodo akan bertindak selaku inspektur upacara.

Komposisi jumlah calon perwira TNI dan Polri yang akan dilantik Akmil putra 244, putri 15 dan jumlah 259. Akademi Angkatan Laut (AAL) putra 103 putri 14 jumlah 117, Akademi Angkatan Udara (AAU) putra 90, putri 9 jumlah 99 dan Akademi Kepolisian (Akpol) putra 256, putri 50 jumlah 306.



Sumber: Suara Pembaruan