HUT Ke-73 Bhayangkara, Mahasiswa Apresiasi Pidato Jokowi

HUT Ke-73 Bhayangkara, Mahasiswa Apresiasi Pidato Jokowi
Presiden Jokowi Beri 5 Instruksi di HUT Bhayangkara ke-73 ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Bernadus Wijayaka / BW Kamis, 11 Juli 2019 | 13:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaksanaan perayaan hari ulang tahun ke-73 Bhayangkara digelar di Monas, Jakarta, Rabu (10/7/2019). Ada sejumlah pesan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat menjadi inspektur upacara dalam peringatan ulang tahun itu.

Pesan yang disampaikan Presiden Jokowi ini mendapatkan apresiasi dari sejumlah mahasiswa. Menurut koordinator Milenial Muslim Bersatu, Khairul Anam, usia 73 tahun bukan lagi usia muda. Pada usianya tersebut, tentunya Polri sudah melewati banyak sejarah untuk menjaga kondusivitas dan keamanan negeri ini.

"Kalau kita analogikan dengan manusia, usia 73 tahun sudah tidak muda lagi. Pada usia yang mulai senja sejarah akan mencatat dengan tinta emas apa yang telah dicapai Polri, terlebih makin meningkatnya sinergitas TNI-Polri," kata Khairul Anam di Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Saat berpidato, Presiden Jokowi mengungkapkan, Polri wajib mewaspadai kejahatan yang sangat mengganggu ketertiban sosial seperti konflik sosial, kerusuhan massa, dan unjuk rasa anarkis harus terus diantisipasi.

Selain itu, katanya, Polri juga bertanggung jawab untuk memberantas kejahatan terhadap kekayaan negara, seperti illegal fishing, illegal logging, dan tindak pidana korupsi juga harus dicegah dan diberantas.

Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi ikut mendorong beragamnya potensi kejahatan di ruang-ruang siber. Penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian menjadi ancaman bagi kerukunan, ancaman bagi persatuan, dan ancaman bagi kesatuan bangsa Indonesia.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan lima instruksi untuk dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas yang harus dilaksanakan jajaran Polri.

Pertama, terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Polri untuk menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks. Kedua, mengedepankan strategi proaktif dan preventif melalui pendekatan dan tindakan yang humanis.

Ketiga, terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang modern, mudah, dan cepat.

Keempat, meningkatkan profesionalisme dan transparansi dalam penegakan hukum serta memberikan rasa adil kepada masyarakat.

Kelima, memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah serta masyarakat dalam memelihara keamanan dan ketertiban sosial.

Mahasiswa asal UIN Syarifhidayatullah ini menilai, Polri bersama dengan TNI telah berhasil menghadirkan rasa aman dari gangguan kejahatan dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, Polri melalui banyak kampanye telah menciptakan ketertiban di masyarakat dan menghadirkan kepastian hukum yang berkeadilan, sehingga tidak ada istilah hukum tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah.

"Kedewasaan institusi Polri juga makin terlihat di usianya kini dengan membangun citra yang lebih humanis. Kita ingat bahwa beberapa waktu lalu ada aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan, namun dalam penanganannya para aparat kepolisian tidak melakukan tindakan represif. Mereka justru membantu para korban yang terluka karena dampak kerusuhan tersebut," kata Anam.

Hal lain yang menjadi perhatiannya yaitu sinergitas antara Polri dengan TNI. "Sejak Jenderal Polisi Tito Karnavian menjadi orang nomor satu di tubuh Polri, kekhawatiran banyak orang terhadap hubungan yang kurang harmonis antara prajurit TNI dan anggota Polri tidak lagi terdengar. Ini sebagai wujud nyata untuk membina hubungan serta persatuan dan kesatuan antarkesatuan di TNI dan Polri," kata Anam.

Ketua Aliansi Mahasiswa dan Milenial untuk Indonesia, Nurkhasanah mengatakan, salah satu masalah yang dianggap kompleks oleh Presiden untuk ditangani khusus oleh Polri adalah kejahatan siber. Diakui, masalah ini memang menjadi sentilan yang sangat kencang bagi kaum muda atau kaum milenial, mengingat mayoritas pengguna media sosial adalah anak-anak muda.



Sumber: Suara Pembaruan