Jatuh Bangun Merugi, Ini Inspirasi Sukses dari Tommy

Jatuh Bangun Merugi, Ini Inspirasi Sukses dari Tommy
Tommy Atlantis berfoto di depan gerai ponsel miliknya di Lombok, Nusa Tenggara Barat. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Jumat, 12 Juli 2019 | 12:29 WIB

Lombok, Beritasatu.com – “Saya malu, tapi ini untuk membuktikan kepada warga Lombok, Nusa Tengara Barat, bahwa kita juga bisa,” tutur Tommy Atlantis, sembari mengingat usaha jerih payahnya membangun usaha mandiri di tengah umurnya yang baru 27 tahun, masih terbilang belia.

Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat. Pria ramah ini bercerita soal bagaimana tertarik untuk berbisnis dan tidak mau menjadi karyawan.

“Karena saya suka hal yang berbeda. Ketika kita berbisnis kita lebih memberi manfaat untuk orang lain dan bisa menentukan sendiri berapa besar penghasilan kita sesuai perjuangan yang kita lakukan,” ucapnya penuh semangat memberikan motivasi usaha mandirinya itu kepada orang lain.

Tommy yang saat ini berusia 27 tahun menjadi salah satu pemilik gerai handphone terbesar di Lombok,Nusa Tenggara Barat. Perjuangan demi perjuangan ia lewati, bahkan ia kerap nengalami kerugian hingga akhirnya ia bisa bangkit dan menjadi salah satu pengusaha muda di Lombok.

Tommy menceritakan awal mula ia menjadi pengusaha adalah dengan modal awal uang SPP kuliah itu pertama kali dia gunakan demi usaha mandiri yaitu sebagai penjual tahu.

Hal itu dilakukannya demi membangun usaha tanpa menyusahkan orang lain. Sebab, bagi dia pantang menyerah adalah prinsip yang musti ditaati.

Dengan modal nekat tapi hasil yang tidak sesuai dan terus-menerus merugi, padahal berat jualannya. Akhirnya Tommy mencoba untuk berjualan selama 6 bulan, namun karena hasil yang tak tentu dan sangat minim ia pun memutuskan untuk tidak berjualan tahu lagi.

Setelah merugi di jualan tahu, ia kemudian membuka bisnis baru yaitu jualan hp cod (cash on delivery). Tommy melakukan bisnis itu bermodalkan modal uang indekos, ia mulai berjualan dari dua buah handphone. Tommy sempat menggeluti usaha itu selama  5-6 bulan.

Tommy akhirnya kembali merugi karena tertipu oleh supplier. Ia pun terpaksa mengganti rugi barang barang yang dibeli tersebut.

Setwlah itu, tanpa ampun ia mulai alih usaha untuk trading valas.. saat itu ia juga merugi. " Saya terus menerus rugi dan mungkin itu apes bagi saya," kata dia.

Tanpa ampun diapun mulai bergelut di usaha multi level marketing (MLM) selama 1,5 tahun. Ia pun berhasil sampai ke posisi profesional leader di Jawa Timur dengan penghasilan 7 juta perbulan.

Namun dia dikeluarkan dari mlm tersebut karena menjual barang yang tidak boleh dijual di bawah harga pasar.

Bermodalkan uang yang didapatkannya dari MLM, Tommy membuka usaha jagung menggunakan gerobak tahu yang pertama kali digelutinya di Malang dan membuka cabang hingga di Lombok. Ia kemudian sedikit mendapatkan hasil sekitar 7-8 juta per bulan.

Setelah jual jagung, ia tertarik lagi untuk menjual hp, ia pun memberikan diri meski dihantui kejadian yang menimpanya.
"Karena basic jual hape, ya mau gak mau," ujarnya.

Setalah beberapa bulan berjulan hape bekas, lagi-lagi Tommy kembali tertipu dan merugi hingga Rp 160 juta.

Tanpa putus asa, sisa tabungan yang punya yaitu 12 juta dan digunakan untuk mebuka gerai batu akik. Saat itu batu akik memang tengah booming.

Namun lagi-lagi ia kembali apes karena di hari pertama, tokonya justru dibobol maling. Sang maling mengambil semua batu akik miliknya dan hanya menyisakan gagang cincin saja.

Karena bertubi-tubi ditipu, iapun sempat menyerah memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya kembali di Universitas Brawijaya jurusan Teknik Pengairan.

"Selama setahun saya fokus kuliah, tanpa memikirkan bisnis lagi karena sedikit trauma," ujarnya.

Setelah diwisuda, pada awal 2017 ia memutuskan untuk membuka usaha asesoris handphone kembali dengan modal awal Rp 30 juta hasil simpanan saat kuliah dan hasil usaha jual beli kecil-kecilan di internet.

Saat berjualan pada bulan-bulan pertama, Tommy sempat merugi karena tempatnya berjualan sepi dan kembali dibobol maling. Namun kali itu Tommy tetap bertahan karena dia bingung mau berusaha yang lainnya.

Jerih payah Tommy akhirnya membuahkan hasil. Hingga pertengahan tahun 2018, usaha yang dimiliknya berubah menjadi salah satu gerai ponsel terbesar di Lombok dengan omset Rp 3-4 miliar perbulan. Saat ini Tommy telah memiliki karyawan 35 orang di gerai handphone miliknya.

Kini Tommy bisa tersenyum lebar menikmati kesuksesannya jatuh bangun merintis usaha. Selain memiliki aset miliaran rupiah modal toko, Tommy telah memiliki dua ruko, dua rumah, tiga mobil dan lain-lain. “Semua aset beli cash tanpa kredit bank,” tutur Tommy.

Bagi Tommy, segala kerugian yang dialaminya bukan melemahkan semangatnya, namun lebih sebagai pecutan agar bisa lebih baik

"Pikirkan impian Anda, rasakan impian Anda, dan bertindaklah menuju arah impian Anda, menuturkan bergerak dan berbuat kepada sesama adalah hal yang harus dipegang teguh. Jadilah orang yang berbeda dan terbaik, dimulai dari sekelilingmu," ucapnya.

Prinsip hidup bagi dia, adalah fokus pada proses, maka hasil hanya bonus 100 proses akan membuahkan 1 hasil. “Bukan 100 hasil dengan 1 proses,” kata Tommy. “Hidup itu, ya simpel, sama seperti ujian, mau pintar ya contek orang pintar, mau sukses ya contek orang sukses."

Bagi Tommy, untuk terus berusaha menggapai imipian suatu saat ingin membuktikan bahwa dia pemuda dari daerah Lombok dengan umur yang masih muda bisa memiliki daya saing untuk menjadi sukses. “Dan membuktikan bahwa siapapun kita, darimanapun kita berasal bisa sukses, kaya raya, dan bisa memberi inspirasi buat teman-teman lainnya,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com