Hari Pertama Sekolah

Mendikbud: Sekolah Sekadar Penitipan Anak, Keluarga Paling Menentukan

Mendikbud: Sekolah Sekadar Penitipan Anak, Keluarga Paling Menentukan
Dalam rangka kegiatan Hari Pertama Sekolah (HPS) Tahun Pelajaran 2019-2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah, Senin 15 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Maria Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / FMB Senin, 15 Juli 2019 | 12:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam rangka kegiatan Hari Pertama Sekolah (HPS) Tahun Pelajaran 2019-2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy bersama para pejabat eselon I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melakukan kunjungan ke beberapa sekolah seperti SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru Jaksel, SDN 3 Sukaharja Kabupaten Tangerang Banten, Sekolah Permata Insani Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, dan SMAN 13 Kabupaten Tangerang, Banten.

Dalam kunjungan tersebut, Muhadjir mengimbau, peserta didik baru untuk memanfaatkan pengenalan lingkungan sekolah sebaik-baiknya. Begitu juga dengan para senior dan guru untuk membuat siswa baru merasa nyaman sebelum memulai kegiatan belajar mengajar(KBM).

"Kesan pertama itu akan sangat menentukan keadaan anak-anak berikutnya ketika berada di sekolah ini. Kalau ketika datang disambut dengan ramah dengan senior-senior, kakak kelasnya kemudian dia juga mendapatkan sambutan yang baik. Diperlakukan dengan baik, Insyaallah mereka akan kerasan, mereka akan nyaman, gembira, akan bahagia dan itu akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar," kata Muhadjir saat membuka pelaksanaan Hari Pertama Masuk Sekolah di SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/7/2019).

Selanjutnya, Muhadjir meminta para guru untuk mencermati dan mengawasi setiap peserta didik. Pasalnya, setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Maka, harus diberi perhatian secara khusus per individu. Dalam hal ini, jangan sampai guru mempunyai pandangan negatif terhadap anak didiknya.

"Setiap anak pasti punya kehebatannya yang terpendam. Tugas guru adalah menggali kehebatan itu dan kemudian digunakan untuk mengantar anak itu ke cita-cita sesuai dengan kemampuan yang didapatkan. Di sini semua tidak ada anak bodoh. Semua adalah anak cerdas, anak pintar. Apakah bisa digali kecerdasannya, kepintarannya itu tergantung guru," ujar mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Lanjutnya, para guru adalah yang paling bisa menentukan masa depan anak-anak. "Insyaallah kalau gurunya bekerja dengan sungguh-sungguh dengan ikhlas, maka anak-anak ini akan menjadi bagian jadi amal saleh jariyah para guru-guru. Kalau anak-anak ini berhasil berhasil di mana bapak-ibu ikut mengukir kepribadian dan karakter anak itu, maka sampai anak itu dewasa akan menjadi amal bapak-ibu guru," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Muhadjir juga mengapresiasi HPS sekolah Muhammadiyah yang menerapkan adanya kakak dan adik asuh. Kata dia, hadirnya kakak asuh untuk membina dan melindungi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurut Muhadjir, hal tersebut merupakan cara yang terbaik untuk para seniornya diajari rasa bertanggung jawab untuk membina mengantar adik-adiknya. Sementara, adik-adiknya juga selama berada di sekolah akan ada yang melindungi, mengawasi kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Senior mohon diasuh adik-adiknya jadi pelindung dan pengawas. Kalau ada yang mengganggu, berikan perlindungan. Pada akhirnya kalau sejak dini sudah diberi tanggung jawab," pungkasnya.

Meski begitu, Muhadjir juga meminta peran dari orang tua murid. Kata dia, sekolah adalah titipan. Maka yang paling menentukan adalah keluarga. Karena itu, orang tua harus berperan aktif seperti tidak segan-segan mengoreksi apabila sekolah tidak apik terhadap putra-putrinya.

Muhadjir menuturkan, kerja sama sekolah dengan orang tua ini bagian dari kebijakan zonasi karena mendekatkan anak dari sekolah sehingga antara sekolah, keluarga dan masyarakat betul-betul bertanggung jawab terhadap keberadaan anaknya di sekolah.

Oleh karena itu, orang tua juga tidak boleh berpandangan kalau anaknya sudah masuk sekolah bukan berarti tugasnya sudah selesai, justru bebannya semakin berat harus betul betul bersinergi dengan sekolah dan melibatkan masyarakat untuk terjamin kenyamanan, keamanannya, keramahannya lingkungan dan sekolah untuk yang bersangkutan. Pasalnya, lingkungan akan sangat menentukan keadaan siswa yang bersangkutan.

"Pesan saya, ingat, sekolah ini hanya sekadar menerima titipan. Tetapi bagaimanapun yang paling menentukan adalah keluarga, terutama ayah dan ibunya. Karena itu, orang tua tidak segan-segan melakukan koreksi, memberikan peringatan kepada sekolah kalau memang dipandang sekolahnya kurang terhadap putra-putrinya. Kerja sama antara sekolah, masyarakat, dan keluarga akan menentukan masa depan anak-anak,"ujarnya.

Sementara itu, terkait Pengenalan Lingkungan Sekolah( PLS). Muhadjir menegaskan, dalam PLS ini tidak ada perpeloncoan. Kegiatan tersebut harus dihindari. "Saya kira kunjungan saya hari ini ada hal yang sangat positif yaitu adanya program kakak asuh dan adik asuh setiap anak yang senior dilatih untuk bertanggung jawab untuk mengasuh anak-adik yang baru. Saya kira ini adalah cara yang baik utk menghindari bullying," kata dia.

Muhadjir juga mengatakan, kegiatan PLS kembali diserahkan masing-masing kepala sekolah. Pasalnya, setiap sekolah ada wakil sekolah bidang kesiswaan. "Saya minta betul-betul bertanggung jawab kalau perlu 24 jam harus dipantau dan dievaluasi tiap hari dan saya sarankan supaya pengenalan lingkungan sekolah ini tidak hanya berjalan tiga hari, tapi setiap minggu terutama sekolah-sekolah yang sudah memberlakukan lima hari sekolah,"ujarnya.

Menurut dia, di sekolah-sekolah yang sudah menjalankan lima hari sekolah, hari Sabtunya bisa digunakan untuk pengenalan lingkungan sekolah, seperti budaya sekolah hingga kegiatan-kegiatan positif di tempat itu.

Sebagai informasi, kunjungan Muhadjir ke SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru, Jaksel juga dalam rangka mengantar ketiga putranya terutama putra bungsunya yang bernama Harbantyo Ken Najjarl yang akan masuk kelas satu SD Muhammadyah 5.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim mengatakan, pada HPS ini harapan terbesar agar orangtua menyempatkan diri meskipun hanya sehari saja dalam setahun atau mungkin sehari saja dalam tiga tahun atau mungkin saja sehari saja dalam enam tahun mengantarkan anak-anak ke sekolah.

"Hadirlah di sekolah lebih pagi, biar dapat bersalaman dan berkenalan dengan guru-guru di sekolah, masuk ke ruang-ruang kelas, periksa toilet sekolahnya, lihat area istirahat siswa dan perhatikanlah hal-hal yang mungkin saja akan membahayakan anak-anak kita,"kata Ramli.

Menurut Ramli, kehadiran orang tua di sekolah sangat diperlukan, paling tidak sebagai akad atau kesepakatan kerja sama antara orang tua dan guru serta pimpinan sekolah. Selain itu, untuk saling mengenal antara guru dan orang tua akan membangun hubungan emosional di antara kedua belah pihak sehingga segala potensi masalah di sekolah baik antara guru dan siswa, guru dan orang tua atau antara guru, siswa dan lingkungan sekitarnya dalam diminimalisir. Hampir seluruh masalah antara anak didik dan guru atau dengan orang tua terjadi karena minimnya komunikasi.



Sumber: Suara Pembaruan