NTB Terus Berupaya Turunkan Angka Kemiskinan

NTB Terus Berupaya Turunkan Angka Kemiskinan
Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat, memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (15/7/2019). ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Senin, 15 Juli 2019 | 22:06 WIB

Mataram, Beritasatu.com – Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 mencapai 14,56 persen. Angka ini menurun 0,07 persen (14,63) dibanding September 2018.

Pemerintah NTB merespons laporan BPS tersebut dengan menyebut bahwa NTB selama ini memang tetap konsen pada upaya-upaya untuk menurunkan angka kemiskinan.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB Najamuddin Amy saat menghadiri rilis BPS di NTB, Senin (15/7) mengatakan, NTB pascagempa sering diasumsikan sebagai daerah terpuruk dari sejumlah sektor, salah satunya terkait kemiskinan.

Namun berdasarkan perhitungan yang dilakukan BPS NTB dari September 2018 – Maret 2019, persentase penduduk miskin terhadap total penduduk di NTB justru menurun meskipun tipis.

Pendekatan kebutuhan dasar untuk menghitung kemiskinan adalah kebutuhan dasar makanan dan kebutuhan dasar nonmakanan. Terkait dengan hal ini, masyarakat NTB pascagempa banyak menerima bantuan makanan dan nonmakanan dari berbagai kalangan, sehingga terhindar dari kekurangan makanan yang bisa berpengaruh pada naiknya angka kemiskinan.

“Kita memiliki daya tahan. Karena pasokan makanan dan nonmakanan selama pascagempa tetap mengalir dari banyak pihak. Sehingga angka 0,07 persen ini harus disikapi sebagai optimisme kita. Saat kita terpuruk pun kita masih bertahan di angka 0,07 persen poin itu,” kata Najamuddin Amy dalam keterangan tertulis kepada Beritasatu.com.

Ia mengatakan, optimisme pemerintah daerah untuk terus menurunkan angka kemiskinan di NTB tetap dibangun. Intervensi anggaran dari APBD terutama di sektor-sektor yang menjadi penyusun garis kemiskinan ini akan dilakukan dalam rangka menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan.

Kabid Statistik Sosial BPS NTB, Arrief Chandra Setiawan mengatakan, selama September 2018 – Maret 2019, garis kemiskinan naik sebesar 3,03 persen, yaitu dari Rp 373.566 per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 384.880 per kapita per bulan pada Maret 2019.

“Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Pada Maret 2019, komoditi makanan menyumbang sebesar 74,54 persen pada garis kemiskinan,” kata Arrief.

 



Sumber: Suara Pembaruan