Hari Pertama Masuk Sekolah, Ganjar: Tak Ada Anak Bodoh

Hari Pertama Masuk Sekolah, Ganjar: Tak Ada Anak Bodoh
Ganjar Pranowo: Kuota PPDB Jalur Prestasi Ditambah ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Stefi Thenu / JEM Selasa, 16 Juli 2019 | 07:37 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, penerapan sistem zonasi dalam penerimaan siswa SMA kali ini sebagai upaya penyamarataan penerimaan pendidikan bagi anak. Maka wali murid dan guru mesti berkolaborasi memoles potensi siswa. Nilai ulangan bukanlah acuan dasar untuk pelabelan kecerdasan siswa.

"Tidak ada anak bodoh, tapi mungkin dia berbakat di bidang lain. Anak-anak mungkin tidak pintar di soal akademis, tapi dia pintar di seni olahraga dan sesuatu yang kreatif lainnya. Di SMAN 1 Semarang ini varian nilainya banyak," ujar Ganjar di hadapan ratusan wali murid dan guru SMAN 1 Semarang di hari pertama tahun ajar 2019/2020, Senin (15/7/2019).

Ganjar memastikan bahwa semua murid yang lolos masuk di SMA negeri, termasuk di SMAN 1, hari ini masuk dengan perasaan gembira. Kemampuan mereka yang beragam, membuka kesempatan untuk belajar berkolaborasi.

"SMAN 1 Semarang ini menarik karena ada yang nilainya 17 dan bisa masuk, mereka bergabung dengan teman-teman lain dan ada diskusi. Itu nanti guru akan jadi fasilitator, kita ajarkan mulai dari sekarang bahwa kelas itu menyenangkan. Kalian punya hak belajar yang sama dan kalian harus saling membantu," katanya.

Di SMAN 1 Semarang, total yang diterima sebanyak 432 siswa. Zonasi seleksi jarak sebanyak 259 siswa. Yang masuk menggunakan zonasi seleksi prestasi sebanyak 86 siswa. Sementara yang menggunakan jalur prestasi sebanyak 78 dari kuota 65. Yang pindah tugas orangtua dari kuota 22, hanya terisi 9 siswa.

Salah satu yang menggunakan jalur prestasi di luar zonasi adalah Jovan Fernando Putra Wiyono asal Lingkungan Kolang Kaling RT 2 RW 2, Wujil Bergas Kabupaten Semarang. Dia atlet wushu yang telah meraih medali emas di tingkat nasional dan pernah berlaga di kejuaraan dunia di Brazil.

"Dia telah berlatih sejak SD. Medali pertama yang dia raih saat kelas 1 SMP, meraih medali emas di tingkat provinsi," kata Joko Wiyono, orang tua Jovan.

Dia merasa bersyukur anaknya bisa masuk ke SMAN 1 Semarang. Padahal jika menilik Nilai Evaluasi Akhir (NEM), nilai putranya hanya 19. Diapun sadar, sistem zonasi ini merupakan yang terbaik untuk pemerataan pendidikan.

"Kalau begini kan anak-anak bisa terpacu karena kemampuannya beragam. Kalau kumpul hanya satu kemampuan, yang bodoh semua, ya kapan anak-anak bisa pintar," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan