Harga Cabai Rawit di Jatim Naik 100 Persen

Harga Cabai Rawit di Jatim Naik 100 Persen
Ilustrasi cabai rawit. ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / JAS Selasa, 16 Juli 2019 | 07:42 WIB

Mojokerto, Beritasatu.com - Harga cabai rawit di beberapa tempat di Jawa Timur seperti Pasar Besar Kota Malang, Pasar Wonokromo Surabaya, dan Pasar Anyar Tanjung Kota Mojokerto, dalam sepekan terakhir terus merangkak naik.

Sekarang harga cabai rawit di pasar-pasar tradisional di tiga kota besar di Jatim itu mencapai Rp 60.000 per kilogram (kg), sementara cabai merah Rp 50.000 per kg. Dua pekan lalu, harga cabai rawit mencapai Rp 30.000 per kg, yang berarti mengalami kenaikan 100 persen.

Kenaikan yang tidak wajar tersebut diduga hanya karena permainan distributor, karena sebelumnya harga cabai rawit tidak lebih dari Rp 16.000 per kilogram atau paling mahal Rp 18.000 per kilogram dan cabai merah bertahan sekitar Rp 20.000 per kilogram.

“Stok hampir-hampir menghilang dan pasokan dari petani setempat di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto yang menjadi sentra tanaman cabai rawit sudah habis,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto Ruby Hartoyo yang dikonfirmasi, Selasa (16/7/2019) pagi.

Ia mengakui, kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah di Mojokerto ditengarai akibat terbatasnya stok dan langkanya pasokan dari petani.

Dari pengakuan Sulistyani (56) pedagang bumbu di Pasar Anyar Tanjung, Kota Mojokerto, dua pekan silam harga cabai rawit masih Rp 30.000 per kilogram.

“Setiap hari harganya naik rata-rata Rp 5.000 karena stok menipis, hingga hari ini menjadi Rp 60.000 per kilogram. Bahkan tidak menutup kemungkinan harga ini akan naik menjadi Rp 75.000 akhir pekan ini,” aku Sulistyani yang dikonfirmasi, Senin (15/7/2019) tadi malam dengan alasan pasokan dari distributor hari itu kosong. Namun untuk harga tomat, justru terjun bebas dari yang semula Rp 9.000 menjadi Rp 3.000 per kilogram.

Ruby Hartoyo mengungkapkan, untuk mencukupi stok, beberapa pedagang terpaksa mengambil cabai rawit dari daerah sentra yang ada di Jateng. Karena menambah ongkos angkut dan transportasi, maka dianggap wajar jika harganya berkisar Rp 50.000 per kilogram.

“Kita sedang berkomunikasi dengan teman-teman Disperindag daerah lain untuk bisa memasok kebutuhan cabai rawit ini untuk stabilitas harga,” ujar Ruby yang menyebut daerah kabupaten lain penghasil cabai rawit, di antaranya Nganjuk, Kediri dan Blitar, Trenggalek serta Tulungagung.

Diakuinya, petani dari daerah sentra itu biasanya rutin memasok cabainya ke distributor di Malang Raya dan Surabaya.

Sementara itu Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Sunaryo mengakui, kenaikan harga cabai rawit di Pasar Besar Malang (PBM) dan Pasar Induk Gadang (PIG) akibat stok menipis. “Pasokan dari Blitar dan sekitarnya, Lumajang dan sekitarnya, menurun karena ada dugaan cabai rawit dan cabai merah dikirim ke kota-kota lain yang menawarkan harga lebih tinggi," kata Sunaryo.

“Kita akan membicarakan dengan Disperindag se-Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang,” ujarnya, dikonfirmasi, Selasa tadi pagi," paparnya.

Hal senada juga diakui Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang Wahyu Setianto, pihaknya secara bersama-sama dengan Pemkot Batu dan Pemkab Malang sedang melakukan survei lapangan terkait meroketnya harga cabai rawit dan cabe merah.

Kepala Disperindag Kabupaten Malang Pancaningsih Sri Rejeki membenarkan, kini sedang dilakukan pemantauan lapangan, menyingkap kenaikan harga cabai rawit yang meroket dalam dua pekan terakhir. “Ini karena ada sesuatu, apakah di pengepul, distributor atau bagaimana. Sedang kita telusuri untuk kemudian dicari jalan keluar secepatnya,” tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan