Titik Api Bermunculan di Jambi

Titik Api Bermunculan di Jambi
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ( Foto: Humas BNPB )
Radesman Saragih / JEM Selasa, 16 Juli 2019 | 07:43 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus terjadi menyusul musim kemarau yang masih berlanjut di daerah itu. Karhutla tersebut terpantau dari munculnya hot spot (titik api) di beberapa wilayah kabupaten di Provinsi Jambi. Hotspot terbaru yang terpantau di daerah itu terdapat di Kabupaten Tanjungjabung Barat (Tanjabbar).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjabbar, Kosasih di Jambi, Selasa (16/7/2019) pagi menjelaskan, dua hotspot muncul di Kecamatan Tebingtinggi dan Senyerang, Senin (15/7/2019). Lokasi hotspot tersebut terdapat di kawasan hutan dan perkebunan.

“Tim BPBD Tanjabbar sudah memantau lokasi hotspot tersebut. Kami juga sudah koordinasi dengan pihak pemerintah kecamatan dan desa untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan tersebut. Luas hutan dan lahan yang terbakar di dua kecamatan tersebut mencapai dua hektare. Kebakaran hutan dan lahan belum sepenuhnya padam,”katanya.

Menurut Kosasih, pihaknya meminta para pemilik kebun sawit di Tanjabbar meningkatkan kewaspadaan karhutla, menyusul musim kemarau yang terus berlanjut. Para petani dan pengusaha sawit juga diminta terus membangun kanal di areal perkebunan guna mencegah meluasnya kebakaran lahan.

"Pembangunan kanal di areal perkebunan kelapa sawit penting menjaga ketersediaan air. Dengan demikian kebakaran lahan lebih mudah dicegah. Kanal tersebut juga perlu sebagai sumber air untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan,”katanya.

Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah mengatakan, karhutla di Jambi masih terus terjadi di tengah menurunnya curah hujan di dearah itu satu bulan terakhir. Karena itu kesiagaan karhutla di daerah itu terus ditingkatkan.

“Seluruh BPBD sembilan kabupaten di Provinsi Jambi kini intensif memantau karhutlah di daerah masing-masing. Bila terjadi karhutla dalam skala luas dan sulit dipadamkan, BPBD kabupaten diharapkan segera melapor ke BPBD Provinsi Jambi untuk mendapatkan bantuan,”katanya.

Dijelaskan, jumlah hotspot yang terpantau di Jambi sejak Januari – Juli 2019 cukup tinggi, yakni mencapai 76 titik. Luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 51 ha. Karhutla tersebut tersebar di Kabupaten Sarolangun, Merangin, Muarojambi, Batanghari, Tanjabbar dan kabupaten lain. Karhutla di daerah itu meningkat sejak Juni – Juli ini.

"Potensi karhutla tetap tinggi di sembilan kabupaten di Jambi. Karena itu antisipasi karhutla terus kami tingkatkan menghadapi musim kemarau hingga Agustus nanti. Posko siaga karhutla sudah dibentuk di setiap kabupaten dengan jumlah personel 40 – 80 orang. Personel pemadaman karhutla yang disiagakan di setiap desa rata paling sedikit 14 orang,” katanya.

Diselidiki

Sementara itu Satuan Polda Jambi dan Polres Batanghari hingga Selasa (16/7/2019) masih menyelidiki otak pelaku penyerangan terhadap Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Terpadu Jambi di di Desa Belanti Jaya, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi akhir pekan lalu.

“Petugas sudah mengantongi identitas otak pelaku penyerangan terhadap Satgas Karhutla di Batanghari. Penyerangan tersebut dilakukan massa yang tergabung dalam Serikat Mandiri Batanghari (SMB). Motif penyerangan itu masih diselidiki. Rekaman kamera pemantau (CCTV) yang ada markas Satgas Karhutla Terpadu Jambi wilayah Batanghari sedang dipelajari ,”kata Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS.

Dikatakan, kasus penyerangan yang dilakukan massa dari SMB ke markas Satgas Karhutla Terpadu Jambi di Desa Belanti Jaya, Mersam, Batanghari terjadi, Sabtu (13/7/2019). Sekitar 60 orang massa dari SMB menyerang dan menganiaya anggota satgas yang sedang bertugas di lapangan.

“Hasil penyelidikan yang kami lakukan, aksi massa dari SMB itu dipimpin Muslim. Massa SMB menyerang Satgas Karhutla Terpadu Jambi karena memadamkan kebakaran lahan sekitar 10 hektare di areal kebun yang dibakar kelompok SMB,”katanya. 

 



Sumber: Suara Pembaruan