Setelah UPH Menang, AYDA 2019 Kembali Mencari Arsitek dan Desain Interior Terbaik

Setelah UPH Menang, AYDA 2019 Kembali Mencari Arsitek dan Desain Interior Terbaik
Prof. Dr. Ismunandar, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti) Republik Indonesia beserta Jon Tan, CEO (Decorative Paints) Nippon Paint Indonesia, bersama dengan kedua pemenang kompetisi AYDA 2018; Silvia Ervina (Universitas Pelita Harapan) dan Daniel (Universitas Kristen Petra). ( Foto: ist / ist )
Mardiana Makmun / MAR Selasa, 16 Juli 2019 | 21:00 WIB

jakarta, Beritasatu.com- Kompetisi arsitektur dan desain interior antar-negara, Asia Young Designer Awards (AYDA) kembali digelar. AYDA 2019 menjadi kompetisi tahun ke-8, yang diselenggarakan oleh Nippon Paint di Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia.

Peluncuran AYDA 2019 di Jakarta, Selasa (16/7/2019), dihadiri oleh Jon Tan, CEO (Decorative Paints) Nippon Paint Indonesia bersama Prof. Dr. Ismunandar. Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti) Republik Indonesia.

CEO (Decorative Paints) Nippon Paint Indonesia Jon Tan mengatakan, “Dengan adanya dukungan Kemenristekdikti RI, kami yakin kompetisi ini akan berkembang dan bersinergi dengan lebih baik. Ditambah dukungan yang telah diberikan oleh para praktisi, industri, dan berbagai universitas ternama di Indonesia, tentunya meningkatkan kualitas kompetisi ini dan mendukung talenta-telenta baru menjadi pemimpin di masa depan industri arsitektur dan desain interior,” kata Jon Tan.

Kompetisi AYDA tahun ini menekankan pada ide-ide baru yang dapat menjadi solusi desain praktis dengan tema “Forward: A Sustainable Future”. Tema merefleksikan masa depan yang berkelanjutan. AYDA selalu mengedepankan tema dinamis dan terus disesuaikan dengan perkembangan lingkungan dan industri, yang menjadikan kompetisi ini sebagai katalis untuk mendorong kreativitas dan keberanian dalam berkarya.

Sebagai contoh, karya pemenang tahun lalu, yaitu Silvia Ervina (Universitas Pelita Harapan) untuk desain interior. “Desain saya terinspirasi oleh Lawang Sewu yang menurut saya justru dinamis dan banyak berhubungan dengan sejarah,” kata Silvia.

Karya Daniel dari Universitas Kristen Petra yang menang di kategori arsitektur tak kalah menarik. “Setiap hari mencium bau ikan asap dari kampung nelayan Kenjeran, Surabaya, saya tergugah mendesain rusun (rumah susun),” kata Daniel yang tetap mengakomodasi kebutuhan nelayan untuk melaut dan juga membuat ikan asap di teras rusun.

Kedua pemenang ini akan berangkat ke Singapura tahun ini untuk bertanding di AYDA tingkat Asia. Selain uang, keduanya bakal memperebutkan beasiswa Summer School Program di Harvard Graduate School of Design .

Prof. Dr. Ismunandar. Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti) memuji kompetisi ini. “Sebelumnya kami di Kemenristekdikti juga membuat kompetisi untuk mahasiswa, tetapi belum ada di bidang arsitek dan desain interior. Kompetisi ini merupakan pembelajaran yang otentik dan hanya yang punya passion saja yang ikut,” kata Ismunandar.

AYDA 2019 di Indonesia bersinergi dengan berbagai pihak, dengan dukungan dari Kemenristekdikti Republik Indonesia di tahun ini, serta Universitas dan para Praktisi Arsitektur dan Desainer Interior. Pada skala internasional, AYDA bekerjasama dengan Harvard Graduate School of Design. Hal ini menjadikan AYDA sebagai sebagai salah satu penghargaan bergengsi di Asia yang diselenggarakan di 15 lokasi geografis, yaitu Bangladesh, India, Indonesia, Iran, Jepang, Malaysia, Pakistan, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Tiongkok, Wilayah Teritori Tiongkok (Hong Kong & Taiwan), dan Vietnam.



Sumber: Investor Daily