Gubernur Sumut Apresiasi Petani Manfaatkan Teknologi Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Gubernur Sumut Apresiasi Petani Manfaatkan Teknologi Tingkatkan Produktivitas Pertanian
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi bersama istrinya Nawal Lubis, menikmati hamparan tanaman padi di Teluk Mengkudu, Kabupaten Batubara. Di daerah itu, produktivitas tanaman padi meningkat setelah petani menggunakan teknologi,baru-baru ini. ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JEM Rabu, 17 Juli 2019 | 14:37 WIB

Medan, Beritasatu.com - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi mengaku terkejut ketika mendengar pengakuan kalangan petani yang mengungkapkan adanya indikasi permainan mafia jika harga jual cabai anjlok. Untuk mengantisipasi permainan itu, kalangan petani mengaku kompak untuk meminimalisasi permainan mafia yang bisa merugikan petani.

Keterkejutan Edy Rahmayadi itu saat mengunjungi petani cabai merah di Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Kabupaten Batubara. Desa Lubuk Cuik merupakan satu dari 141 desa di kabupaten yang baru dimekarkan pada medio 2006 silam itu. Daerah ini menjadi pusat perhatian karena memiliki arel pertanaman cabai merah seluas 484 hektare (ha),  terluas di tingkat nasional.

Mantan Pangkostrad itu pun langsung menemui petani cabai setelah selesai melaksanakan pertemuan dengan kalangan petani tanaman padi di Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (16/7/2019). Dalam setiap kunjungan, Edy didampingi istri selalu menyerap aspirasi petani. Edy menginginkan kalangan petani bisa hidup sejahterah dan bermartabat.

"Dulunya, kami selalu mengalami kerugian akibat permainan mafia itu. Cabai dibeli dengan harga rendah dari kalangan petani, kemudian mereka menjual harga tinggi dengan bermain di pasar. Kami mengharapkan, Pak Gubernur melalui jajarannya terkait juga membantu kami untuk mengantisipasi anjloknya harga cabai," ujar seorang petani cabai, Sadarin (38).

Sadarin mengakui, sejak bulan Ramadan sampai dengan saat ini, harga cabai merah di tingkat pasar, membawa banyak keuntungan bagi kalangan petani. Apalagi, saat ini mereka melepas harga cabai merah/kg sebesar Rp 50 ribu sampai - 55 ribu ke agen. Kemudian, agen menjual ke pengecer dan harga di pasar tradisionil mencapai Rp 80 ribu/kg.

Setelah mendengar aspirasi petani, Gubernut Sumut berjanji akan lebih memberikan perhatian besar untuk kalangan petani cabai supaya tidak terjebak dalam permainan oknum yang merugikan petani. Gubernur Sumut menyarankan petani supaya tidak mengandalkan pupuk yang mengandung zat kimia dalam meningkatkan produksi petani.

"Penggunanaan pupuk kimia justru semakin merusak tanah pertanian. Saya sarankan untuk menggunakan pupuk kompos. Kita akan mencari cara pengolahan kompos yang bisa meningkatkan produktivitas lebih. Kita kembangkan melalui dinas pertanian. Bila petani membutuhkan modal pinjam ke Bank Sumut. Ini bank milik pemerintah provinsi," jelasnya.

Kepala Dinas TPH Provinsi Sumut, Dahler Lubis, menyambut positif kenaikan harga jual di tingkat petani. Bahkan, sebagai upaya mengantisipasi anjloknya harga cabai merah yang akan merugikan petani, pihaknya berencana menyediakan cold storage (ruang pendingin) untuk penyimpanan produk hortikultura yang pengadaannya diusulkan untuk tahun anggaran 2020.

Nantinya, melalui cold storage, para petani bisa menyimpan hasil panennya hingga beberapa minggu, sambil menunggu harga jual kembali bernilai ekonomis. "Ada lima unit cold storage berkapasitas 16 ton yang kita usulkan di APBD 2020," tuturnya. Bila disetujui, kata Dahler, cold storage tersebut akan diberikan ke UPTD Arse di Sipirok, Tapanuli Selatan, UPTD Gabe, Tapanuli Utara, UPTD Aneka Tanaman di Batubara, UPTD BIH Gedung Johor Medan) dan UPTD Kuta Gadung, Tanah Karo.

"Diharapkan, cold storage itu bisa membantu para petani hortikultura mendapatkan harga jual yang memadai," sebut Dahler.

Dahler mengklaim akan melakukan pengembangan kawasan cabai merah seluas 60 ha dan bawang merah seluas 115 ha. Untuk cabai merah, pengembangan dilakukan di Kabupaten Langkat, Batubara, Tapanuli Selatan (Tapsel), Padangsidimpuan, Madina dan Deliserdang. Sedangkan pengembangan kawasan bawang merah, berada di delapan kabupaten, yakni Deliserdang, Padangsidimpuan, Samosir, Tapsel, Madina, Dairi, Paluta dan Batubara.

Sebelum menemui petani cabai merah di Desa Lubuk Cuik, Gubernur membukabpekan daerah (Peda) Kontak Tani Nelayan Andalan di Kabupaten Serdang Bedagai. Seusai acara itu, Edy juga menemui petani tanaman padi di Teluk Mengkudu. Di daerah itu, produktivitas tanaman padi mengalami peningkatan.

Edy Rahmayadi menyampaikan, produksi tanaman padi di Sumut bisa mengejar produktivitas panen padi negara Thailand yang menghasilkan 12 ton/hektar. Produktivitas pertanian Sumut bahkan bisa lebih meningkat dengan menggunakan teknologi pertanian padi sistem Jajar Legowo (Jarwo).

"Saat ini, produksi petani saat memanen padi mencapai 9 ton hingga 11 ton/hektare. Ada peningkatan dari hasil produksi petanibsebelumnya. Ini hampir mengimbangi produksi petani di Thailand," ujar Edy Rahmayadi setelah membuka Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ke-IV Tingkat Provinsi Sumatera Utara, di Desa Melati II, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (16/7/2019).

Saat meninjau areal pertanian padi sistem Jajar Legowo di Desa Sei Buluh, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Edy mengapresiasi kalangan petani yang melek teknologi untuk meningkatkan produksi tanaman padi itu. Apalagi, sudah tujuh kabupaten yang menjadi percontohan karena menerapkan teknologi tersebut.

Teknologi Jarwo merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanaman jajar legowo 2:1 atau 200 ribu rumpun per hektare dengan alat mesin tanam padi yang disebut Jarwo Transplanter. Hasil rata - rata panen padi dengan teknologi Jarwo mencapai 8 hingga 9 ton/hektare. Bahkan, baru-baru ini ada yang mencapai 11 ton/hektare.

"Semoga ke depannya semakin banyak daerah lainnya yang juga menerapkan teknologi ini," katanya. Edy mengaku kagum atas hasil teknologi Jarwo yang diperkenalkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Sumut. Saat itu, Edy juga memberikan bantuan alat pertanian kepada para kelompok tani. Penyerahan secara simbolis kepada Kelompok Tani Tunas Harapan, Sido Bahagia, Sri Kandi, Tunas Baru, dan Sri Wedari.

Sementara itu, Kepala BPTP Balitbangtan Sumut Khadijah Lubis menjelaskan, luas lahan sawah percontohan dengan teknologi Jarwo hingga tahun 2018 mencapai 1.174 hektare, yang tersebar di Kabupaten Langkat, Deliserdang, Tapanuli Selatan, Batubara, Labuhanbatu, Asahan, dan Serdang Bedagai.



Sumber: Suara Pembaruan