Menristekdikti: Lulusan Sekolah Tinggi Vokasi Tak Cuma Pegang Ijazah

Menristekdikti: Lulusan Sekolah Tinggi Vokasi Tak Cuma Pegang Ijazah
Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan pidato sambutan saat acara Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Jakarta, Rabu 17 Juli 2019. Seminar ini diselenggarakan untuk menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, disamping itu untuk membekali siswa didik dengan pendidikan serta keterampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Monica Dina Putri / HA Rabu, 17 Juli 2019 | 23:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan kompetensi lulusan pendidikan tinggi vokasi akan diprioritaskan di samping persyaratan formal dalam bentuk ijazah.

“Sehingga para lulusan pendidikan tinggi vokasi tidak saja memegang ijazah, namun memiliki pula sertifikat kompetensi. Jangan sampai para lulusan memiliki ijazah, tapi tidak kompeten," kata Nasir dalam seminar Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia di Kampus Universitas Prasetya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019).

Nasir menyampaikan, program sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa sudah berjalan sejak 2017, di mana mahasiswa vokasi menjalani program perkuliahan dua tahun di Indonesia dan dua tahun di luar negeri dan setelah itu dia akan lulus dengan sertifikat kompetensi.

"Dengan begitu, nantinya sebelum bekerja, mereka tidak lagi ditanya berasal dari perguruan tinggi mana, tetapi ditanya apa sertifikat kompetensi yang dimiliki,” kata Nasir.

“Harapannya, seluruh inisiatif perusahaan dalam pendidikan vokasi yang menghasilkan lulusan tersertifikasi, berkesempatan mendapatkan insentif tadi.”

Dalam praktiknya, sistem pengajaran ganda atau dual system ini melibatkan sektor industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang memadukan pembelajaran teori sebanyak 30 persen dan 70 persen berupa praktik di lingkungan kerja, sesuai kebutuhan industri terkait.

Chairman of Swiss Federal Institute for Vocational Education &Training (SFIVET), Gnaegi Philippe yang hadir sebagai pembicara mengatakan, hadirnya negara bersama sektor privat akan menghasilkan sistem pendidikan vokasi yang efektif, sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.



Sumber: BeritaSatu.com