Suku Tengger Gelar Puncak Hari Raya Yadnya Kasada

Suku Tengger Gelar Puncak Hari Raya Yadnya Kasada
Masyarakat Suku Tengger melarung sesaji berupa ayam ke kawah Gunung Bromo saat Upacara Yadnya Kasada di gunung tersebut, Probolinggo, Jawa Timur, 10 Juli 2017. ( Foto: Antara/Zabur Karuru )
Aries Sudiono / FMB Kamis, 18 Juli 2019 | 09:53 WIB

Probolinggo, Beritasatu.com - Prosesi perayaan Hari Raya Yadnya Kasada 2019 bagi Suku Tengger yang dipusatkan di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur (Jatim) berlangsung cukup meriah, walau cuaca dingin terasa menusuk tulang, Rabu (17/7/2019) tadi malam. Usai melaksanakan pengukuhan sejumlah tokoh dan pejabat, Ketua Para Dukun Pandita Suku Tengger, Sutomo memimpin prosesi melarung ongkek (wadah) berisi aneka sesaji untuk dilempar ke kawah Gunung Bromo, Kamis (18/7/2019) dini hari pukul 00.00 WIB.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengukuhan tokoh-tokoh penting sebagai warga kehormatan Suku Tengger dilaksanakan semalam di Pendopo Agung Desa Ngadisari. Jika sebelumnya mereka yang dikukuhkan adalah pejabat tinggi setingkat menteri atau gubernur, untuk kali ini hanya Sekda Provinsi Jatim Heru Cahyono, Dandim 0820 Probolinggo Letkol (Inf) Imam Wibowo, Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto, Kapolres Kota Probolinggo AKBP Alfian Nurrizal dan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Probolinggo, Agus Ardian Agustriono.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa semalam tidak bisa hadir dalam acara pengukuhan itu tanpa diketahui alasannya. Padahal sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa sudah masuk dalam daftar tokoh yang hendak dikukuhkan sebagai warga kehormatan Suku Tengger sebagaimana Gubernur Jatim di waktu-waktu sebelumnya.

“Memang, setiap puncak perayaan Hari Raya Yadnya Kasada, selalu diisi dengan pengukuhan tokoh masyarakat di Probolinggo, Surabaya dan Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia,” ujar Kadiskominfo Kabupaten Probolinggo, Yulius Christian.

Menurut tokoh masyarakat Suku Tengger, Supoyo menambahkan, pengukuhan para tokoh bertujuan untuk melestarikan budaya dan tradisi Suku Tengger. Mereka diharapkan dapat berperan aktif dalam memajukan budaya Suku Tengger sesuai bidangnya masing-masing.

“Pengukuhan ini merupakan sebuah bentuk penghormatan warga Suku Tengger, yang penganut Agama Hindu Mahayana itu, kepada para pejabat. Kemudian bagaimana pejabat itu dapat memberikan kontribusi melalui bidangnya masing-masing terkait pelestarian budaya dan meningkatkan kesejahteraan bagi warga Suku Tengger,” ujar Supoyo yang juga anggota DPRD Kabupaten Probolinggo itu. Saat prosesi pengukuhan, para tokoh berpakaian serba hitam dan mengenakan udeng (ikat kepala dari kain), duduk berjajar di belakang Ketua Para Dukun Pandita Suku Tengger, Sutomo.

Mereka yang dikukuhkan mendengarkan dengan khidmad Ketua Para Dukun Pandita Sutomo, merapalkan mantera pengukuhan. Tugas dan kewajiban para birokrat yang dikukuhkan sebagai anggota keluarga kehormatan Suku Tengger itu diharapkan ikut memikirkan bagaimana ikut melestarikan budaya dan meningkatkan kesejahteraan Suku Tengger. Dari catatan Suku Tengger sendiri, banyak pejabat mantan menteri, gubernur, pengusaha dan tokoh pejabat lainnya yang menjadi anggota keluarga kehormatan, namun banyak di antara mereka melupakan suku yang tinggal menetap di puncak Gunung (G) Bromo tersebut.

Ritual Yadnya Kasada adalah sebuah upacara adat umat Hindu suku Tengger yang digelar setiap tahun pada hari ke-14 bulan Kasada. Upacara yang selalu berlangsung pada saat bulan purnama itu sudah dilakukan rutin sejak abad ke-14. Melalui upacara Yadnya Kasada yang dipusatkan di Ponten Agung di tengah Lautan Pasir G. Bromo, ritual adat yang wajib diselenggarakan setiap tahunnya tanpa kompromi. Kendati sedang erupsi, apalagi hanya hujan turun dengan derasnya, dan badai menerpa, upacara tetap harus dilaksanakan. Karena melalui Yadnya Kasada, mereka memuja Sang Hyang Widhi Wasa lewat larung sesaji hasil bumi mereka



Sumber: Suara Pembaruan